Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

BAGAIMANA LGBT BERPENGARUH DALAM KELUARGA

Foto di ambil dari google
(by : Iramawati Oemar)
•••••••
Berikut ini adalah KISAH NYATA, pengalaman pribadi dari salah satu teman FB saya, Neng Lifa, yang menuliskan testimonial pengalamannya ketika mendampingi seorang Ibu yang anak-anaknya menjadi korban kejahatan seksual dari pengidap kelainan homoseks.
Kesaksiannya yang ditulis di kolom komentar status FB saya sebelumnya, atas ijin yang bersangkutan akan saya rangkum dan tuliskan kembali, disertai opini pribadi saya.
Berikut cerita Neng Lifa :
👇👇👇
Tahun 2012 saya membantu seorang ibu yang minta tolong karena anaknya yang berumur 3 tahun mengeluh sakit pada duburnya. Ketika kami bawa puskesmas ternyata anak tersebut disodomi oleh "pacar" bapaknya, yang diakui sebagai keponakan oleh sang bapak. Sudah 17 tahun yang katanya ponakan itu tinggal satu atap dengan mereka. Celakanya, selama 17 tahun ternyata sang bapak dan keponakan abal-abal itu adalah sepasang kekasih sejenis.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata anak mereka yang pertama, saat itu sudah berumur 16 tahun dan anak yang berumur 10 tahun turut pula disodomi. Kemudian kedua anak tersebut bermutan alias ketularan perilaku menyimpang dan kemudian menyodomi anak tetangga mereka.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Kami sudah berusaha membawa mereka ke TP2TPA DKI bahkan ke kepolisian namun mentok, karena si ibu harus mengeluarkan biaya visum sendiri yang tidak sedikit.
Juga tekanan dari suaminya. Belakangan, suaminya kabur bersama "keponakan" alias pacar sejenisnya.
Akhirnya kasus tersebut mengendap.
Dan yang paling menyakitkan bagi si Ibu, dia mendapatkan "hadiah" dari sang suami, Ibu itu terinveksi HIV AIDS.
Selama 17 tahun hidup bersama suami dan juga serumah dengan "keponakan" suaminya, Ibu itu sama sekali tidak melihat kejanggalan perilaku suaminya.
Bahkan dia tidak tahu kalau kedua anaknya sudah lama menjadi korban kebiadaban nafsu syahwat keji (saya tak tega menulis nafsu binatang, karena binatang saja belum tentu sebejat Itu) pacar si bapak. Jika saja anak bungsunya yang baru umur 3 tahun tidak menderita kesakitan, mungkin perilaku iblis laknatullah dari bapak dan pacar sejenisnya itu akan terus berlanjut.
*** *** ***
Itu baru sekelumit contoh bahwa homoseksual adalah penyakit penyimpangan seksual, yang dampaknya sangat rentan menular kepada orang lain, meski masih dibawah umur sekalipun dan meski itu orang terdekat sekalipun.
Si kekasih gelap sejenis dari bapak yang biseksual itu tidak cukup hanya melampiaskan nafsu syahwat bejatnya kepada pria beristri yang "berselingkuh" dengannya, namun juga "memangsa" anak-anak dari kekasih sejenisnya. Tidak hanya satu anak, tapi sampai 3 anak. Tidak hanya yang sudah usia sekolah, yang balita pun diembat juga.
Bandingkan seandainya bapaknya berselingkuh dengan perempuan lain, meski sama-sama tidak bisa dibenarkan dari sisi hukum agama maupun dari sisi norma sosial, maka perselingkuhan itu hanya akan terjadi antar si bapak dengan kekasih gelapnya. Tidak akan memakan korban anak-anaknya.
Andaikan pun kekasih gelap si bapak itu adalah perempuan jalang yang tidak puas dengan hanya 1 kekasih gelap, maka dia akan berselingkuh dengan om-om lainnya, tidak memangsa anak di bawah umur.
Alangkah dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh pasangan homoseks tersebut.
Setidaknya, ada 3 anak kandung dari pelaku biseksual yang jadi korban langsung. Belum lagi 2 anak yang sudah lebih dulu menjadi korban sodomi kemudian ber'mutasi' menjadi pelaku, dengan men-sodomi anak-anak tetangganya. Entah berapa keseluruhan korban akibat "PENULARAN" perilaku seks menyimpang kaum homoseksual.
Anak-anak yang seharusnya masih berperilaku normal layaknya anak seusianya, masih mampu mengontrol hasrat seksual yang sepadan bagi anak yang tumbuh kembang normal tanpa terpapar pengalaman seksual abnormal, telah berubah menjadi predator bagi sesamanya, bagi anak seusianya.
Belum lagi si Ibu yang menanggung derita berlipat ganda. Sudahlah suami ketahuan selingkuh, selingkuh dengan sejenis pula, selingkuhan suaminya memangsa anak-anaknya, dia mendapat warisan penyakit HIV AIDS yang pengobatannya tidak murah dan tidak dijamin bisa sembuh, terakhir sang suami malah minggat meninggalkan setumpuk derita yang harus ditanggungnya sendiri.
Bagaimana nasib ketiga anaknya yang semestinya harus mendapatkan terapi dan pendampingan secara serius dan intensif sampai benar-benar bisa sembuh lahir dan batin. Luka fisik dan psikisnya harus diobati sebelum mereka tumbuh jadi remaja dan dewasa yang buas dan menjadi predator berikutnya.
Para pembela, pendukung dan pembenar perilaku LGBT, dengan dalih HAM, bersediakah mereka membentuk crisis center untuk membantu dan mendukung sepenuhnya para korban perilaku menyimpang dari pelaku LGBT?!
Bukankah orang-orang yang telah mereka tularkan penyakit sosial itu sesungguhnya punya hak azasi juga untuk hidup normal tanpa dibayangi pengalaman pahit disodomi dan terpicu mensodomi orang lain lagi?!
Korban-korban berantai ini harus juga dilindungi HAM-nya. Jadi jika ada pelaku LGBT yang merugikan orang atau anak yang tadinya normal, seharusnya ada yang menanggung kerugian itu, minimal secara materi agar mereka bisa mendapatkan terapi dan rehabilitasi psikis yang memadai, yang tentunya biayanya tidak sedikit. Apalagi kalau secara fisik juga sudah terinfeksi HIV AIDS.
Dengan banyaknya kisah nyata korban kebejatan perilaku kaum LGBT, masihkah menganggap LGBT fine aja hidup bebas dan tumbuh kembang di sekitar kita?!
Masihkah berpendapat itu bukan penyakit, hanya varian saja dari kecenderungan seksua!?!
Masihkah santai saja dan bisa 'nrimo' dan 'legowo' jika korban itu adalah keponakan anda, adik anda, anak anda dan orang-orang yang anda kasihi?!
Yakin anda akan bilang "gak masalah, anak saya disodomi kaum homo. Santai aja bro, itu bukan penyakit kok!"
Jika anda tak ingin orang terkasih menjadi korban LGBT, maka jangan pernah berkata "LGBT harus dilegalkan" atau "terimalah LGBT karena itu bagian dafi hak azasi manusia".

Siapakah Sholahuddin Al Ayyubi (Saladin)?

Shalahuddin Al-Ayyubi atau nama sebenarnya Yusuf bin Ayyub (1137 -1193) mengasaskan dinasti Ayyubi bangsa Kurdis di Mesir dan Syria. 

Di Barat beliau dikenali sebagai Saladin. Dia juga terkenal dalam kalangan Nasrani dan Muslim dengan kebolehannya sebagai ketua dan ketangkasannya dalam peperangan yang disertai juga dengan sifat kesateriaan dan belas kasihannya semasa Perang Salib.

Salahuddin dilahirkan di dalam sebuah keluarga Kurdish di Tikrit dan dihantar ke Damsyik untuk menghabiskan pelajarannya. Ayahnya, Najm ad-Din Ayyub, ialah gubernur wilayah Baalbek. Selama 10 tahun Salahuddin tinggal di Damsyik di kawasan istana milik Nur ad-Din.

Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya

Shalahuddin menerima latihan ketentaraan dari pamannya, Shirkuh yang juga ketika itu merupakan panglima kepada Nur al-Din dan sering mewakili Nur al-Din dalam kempennya menentang Kerajaan Fatimiyyah di Mesir sekitar tahun 1160. Shalahuddin kemudiannya mewarisi tugas menentang Kerajaan Fatimiyyah (akhirnya tumpas) dari pamannya dan dilantik menjadi panglima pada tahun 1169.

Di sana, dia mengambil alih tugas berat mempertahankan Mesir dari serangan tentara Salib dibawah Kerajaan Latin Baitulmuqaddis pimpinan Almaric I.

Kemampuan
Shalahuddin diragui pada peringkat awal perlantikkannya sebagai panglima. tidak ada yang menyangka beliau dapat bertahan lama ekoran terdapat banyak perubahan dalam kerajaan dalam tahun sebelumnya seperti perebutan kuasa oleh gubernur-gubernur yang sedia ada dalam mendapat perhatian khalifah. Sebagai seorang ketua tentera asing dari Syria, Shalahuddin tiada kuasa ke atas askar-askar Mesir yang terdiri daripada golongan Syiah yang ketika itu dipimpin oleh Khalifah Al-Adid.

Ketika khalifah Al-Adid meninggal dunia pada bulan September 1171,
Shalahuddin mengarahkan para imam mengumumkan nama Khalifah Al-Mustadi (Khalifah Abbasiyyah di Baghdad) setelah solat Jumat. Sekarang, walaupun Shalahuddin yang memerintah Mesir tetapi hanya sebagai wakil Nur ad-Din. Selepas dilantik menjadi pemimpin Mesir, Shalahuddin melakukan perubahan terhadap ekonomi Mesir, menyusun semula angkatan tentera, dan menuruti nasihat ayahnya supaya mengelak dari sebarang konflik dengan Nur ad-Din. Beliau menunggu sampai Nur ad-Din meninggal dunia sebelum memulakan beberapa siri kempen ketentaraan. Pada awalnya terhadap beberapa kerajaan-kerajaan Muslim yang kecil kemudian ke atas tentara Salib.

Dengan kewafatan Nur ad-Din pada tahun 1174, beliau menjadi Sultan Mesir. Beliau kemudian mengumumkan kemerdekaan dari kerajaan Seljuk dan mengasaskan Kerajaan Ayubbiyyah. Beliau turut mengembalikan ajaran Sunah wal jamaah di Mesir.

Menentang tentera Salib
-----------------------------------
Dalam dua peristiwa berbeda yaitu tahun 1171 dan 1173,
Shalahuddin mundur setelah satu siri serangan oleh tentera Salib. Shalahuddin berharap bahawa kerajaan Salib ini tidak diganggu selagi beliau tidak menguasai Syria. Nur ad-Din dan Shalahuddin hampir perang akibat dari peristiwa itu, tetapi dengan wafatnya Nur ad-Din pada 1174, perang ini dapat dielakkan. Ahli Waris Nur ad-Din yaitu as-Salih Ismail al-Malik, ia masih anak-anak ketika dilantik menggantikan ayahnya. Walau bagaimanapun dia meninggal dunia pada tahun 1181.

Setelah Nur ad-Din meninggal dunia,
Shalahuddin hijrah ke Damsyik, dan setibanya di sana, dia diberi sambutan yang meriah. Dia mengukuhkan kedudukannya dengan menikahi balu Nur ad-Din. Walaupun Shalahuddin tidak memerintah Aleppo dan Mosul (dua bandar yang pernah dikuasai Nur ad-Din), beliau dapat menggunakan pengaruhnya dan menguasai kedua bandar itu pada tahun 1176 (Aleppo) dan 1186 (Mosul).

Sementara
Shalahuddin Al-Ayubbi menumpukan perhatiannya ke atas wilayah-wilayah di Syria, negeri-negeri Salib dibiarkan bebas, walaupun begitu beliau sering mencatatkan kemenangan ke atas tentera Salib di mana saja kedua-dua belah pihak bertempur. Beliau bagaimanapun tumpas dalam Perang Montgisard yang berlaku pada 25 November, 1177. Dia ditewaskan oleh gabungan tentera Baldwin IV dari Baitulmuqaddis, Raynald dari Chatillon dan Kesatria Templar.

Keamanan di antara
Shalahuddin dan negeri-negeri Salib tercapai pada 1178. Shalahuddin meneruskan serangannya pada 1179 selepas daripada kekalahannya dalam Perang Montsigard, dan dalam serangannya ke atas sebuah kubu kuat tentera Salib beliau berjaya menumpaskan tentera Salib. Walau bagaimanapun, tentera Salib terus menyerang orang-orang Muslim. Raynald dari Chatillon mengganggu laluan perdagangan dan haji orang Islam dengan kapal-kapal laut di Laut Merah. Raynald juga mengancam menyerang kota suci Islam yakni Kota Mekah dan Madinah menjadikannya orang paling dibenci dalam dunia Islam. Sebagai tindak balas, Shalahuddin Al-Ayubbi menyerang Kerak, sebuah kubu Raynald pada tahun 1183 dan 1184. Raynald kemudian menyerang dan membunuh kabilah yang dalam perjalanan untuk menunaikan haji pada tahun 1185.

Pada bulan Juli tahun 1187,
Shalahuddin menyerang negeri-negeri Salib. Pada 4 Julai 1187, beliau bertempur dalam Pertempuran Hattin menentang gabungan kuasa Guy dari Lusignan (sebutan gi bukan guy), raja negeri-negeri Salib, dan Raymond III dari Tripoli. Tentera Salib yang letih dan dahagakan air mudah ditumpaskan oleh tentera Salahuddin. Kekalahan tentera Salib ini membei tamparan yang besar buat mereka dan menjadi satu titik perubahan dalam sejarah Perang Salib. Salahuddin berjaya menangkap Raynald dan beliau sendiri memancung kepala Raynald akibat kesalahannya. Raja Guy juga berjaya ditangkap tetapi beliau tidak dipancung.

Selepas tamatnya Perang Hattin,
Shalahuddin berjaya merampas kembali hampir keseluruhan kota-kota yang dikuasai tentera Salib. Beliau berjaya menawan semula Baitulmuqaddis (Jerusalem) pada 2 Oktober tahun 1187 selepas hampir 88 tahun kota itu dikuasai tentera Salib (lihat Kepungan Baitulmuqaddis). Kecuali bandar Tyre tidak ditawan Shalahuddin. Shalahuddin membenarkan tentara dan masyarakat Kristian pergi ke sana. Kota itu sekarang diperintah oleh Conrad dari Montferrat. Dia mengukuhkan pertahanan Tyre dan berjaya menahan dua kepungan yang dilakukan oleh Salahuddin. Pada tahun 1188, Shalahuddinmembebaskan Guy dari Lusignan dan menghantar beliau kembali kepada isterinya yaitu Sibylla dari Baitulmuqaddis.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.

Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.

Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.

Perang Hattin dan kejayaan tentera Islam menawan semula Baitulmuqaddis mengakibatkan terjadinya Perang Salib Ketiga yang dibiayai di England melalui cukai khas yang dikenali sebagai "Cukai Salahuddin". Tentera Salib ini berjaya menawan semula Acre, dan tentera Salahuddin bertempur dengan tentera Raja Richard I dari England (Richard Si Hati Singa) dalam Perang Arsuf pada 7 September 1191. Kedua-dua belah pemimpin baik
Shalahuddin maupun Richard amat menghormati antara satu sama lain. Mereka juga pernah bercadang untuk berdamai dengan mengahwinkan adik perempuan Richard, Joan dari England kepada adik lelaki Shalahuddin, Al-Adil, dengan kota Baitulmuqaddis menjadi hantarannya. Rundingan ini gagal ekoran kebimbangan berhubung hal-hal agama di kedua-dua belah pihak.

Kedua-dua pemimpin mencapai persetujuan dalam Perjanjian Ramla pada tahun 1192 yang mana kota Baitulmuqaddis akan terus berada dalam tangan orang Islam tetapi dibuka kepada penganut-penganut Kristian. Perjanjian itu menjadikan negeri-negeri salib hanyalah gugusan kecil di sepanjang pesisir pantai Tyre hingga ke Jaffa.

Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus tidak lama selepas pemergian Raja Richard..

Beliau meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai mensolati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya.

Apabila mereka membuka peti simpanan
Shalahuddin untuk membiayai upacara pengebumiannya, mereka mendapati ia tidak cukup (diriwayatkan Shalahuddin hanya meninggalkan sekeping wang emas dan empat wang perak semasa kematiannya. Ada juga riwayat yang menyebut wang itu hanyalah wang 5 Dinar) .

Shalahuddin telah memberikan hampir kesemua hartanya kepada rakyat-rakyatnya yang miskin. Makamnya yang terletak di Masjid Ummaiyyah merupakan tumpuan tarikan pelancong yang terkenal. Makamnya adalah antara makam yang sering dikunjungi umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah meridhai, merahmati, dan membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem..aamin ya Rabb.

Sumber:
https://kisahmuslim.com/3915-shalahuddin-al-ayyubi.html
https://ms.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_al-Ayyubi

Dekati anak dengan cara yang tepat !!



Rihlah dan out bond bersama ayah & bunda

Anak merupakan harapan dan tumpuan orang tua kelak di kemudian hari. Oleh karena itu, sebagai orang tua tentunya harus dapat memberikan bimbingan serta arahan yang tepat agar ia menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia sebagaimana yang kita inginkan kelak saat mereka telah dewasa.

Para ayah dan bunda sempatkan waktumu, menjadi pendamping kehidupan, dan membimbing mereka mengenali tuhannya, mengenali kehidupan dunia ini. Memang tidak mudah dan terus belajar bagaimana memahami mereka yaitu anak-anak kita. Mencontoh suri tauladan utama yaitu rasulullah SAW. Bagaimana rasulullah dengan anak- anak, bagaimana cara beliau mengajari mereka, begitu banyak hal bisa kita pelajari sebagai orang tua.

Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka, ini merupakan salah satu upaya untuk bisa mendidik dan dekat dengan mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi merekadan memeluknya.

Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah pernah lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesahsampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma.

Cara mendidik anak yang baik memiliki banyak metode. Seberapa besar tingkat keberhasilan dari metode yang diterapkan tentu tergantung dari seberapa efektif masing-masing orang tua dalam memberikan kontribusi kepada anak-anaknya. Cara yang bisa dilakukan tentunya saat menghadapi mereka dengan cara yang sesuai dengan usia mereka sehingga mereka selalu belajar dalam keadaan bahagia, senang akan membuat mereka merasa diperhatikan. Berikut ini yang bisa kita lakukan diantaranya:

1.      Bersikap lembut terhadap anak
Sebagai orangtua bersikap lembut merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Sebab dengan bertutur kata yang lembut, seorang anak akan mendengarkan perkataan orangtuanya. Begitu juga saat memanggil dengan panggilan yang baik, misalnya “ anak bunda yang shalih…kemarilah…”, membuat anak menjadi bangga terhadap dirinya. Serta dengan panggilan yang baik juga merupakan bagian doa dan harapan orang tuanya.

2.      Menunjukkan kasih sayang yang tulus
Selain dituntut untuk bersikap lembut kepada anak, orang tua juga selayaknya memberikan kasih sayang yang tulus dan utuh kepada anak. Salah satu contohnya adalah dengan mengatakan kepada anak bahwa kita sangat menyayanginya, “ nak…bunda sayang sekali kepadamu…,  Pelukan atau ciuman juga bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi jiwa sang anak yang bisa kita  lakukan.

3.      Memberi rasa nyaman
Tumbuhkanlah rasa nyaman ketika anak sedang bersama dengan kita. Sesekali ajaklah untuk berdiskusi kecil di sela-sela kebersamaan agar anak merasa nyaman, sebaiknya tidak menjadi yang merasa paling tahu segalanya sehingga membuat kita sebagai orangtua terkesan mendominasi pembicaraan. Jadikan ia seperti seorang teman yang juga perlu untuk kita dengarkan dengan baik dan penuh rasa simpati.

4.      Menjadi pendengar yang baik
Mungkin anak kita pernah merasakan di olok-olok oleh teman sebayanya. Sebagai orang tua yang baik, mencoba melakukan pendekatan agar si anak mau bercerita. Di saat seperti itulah kita dituntut untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan mampu mendengarkan semua keluh kesah si kecil. Ini merupakan kunci sukses dalam membangun rasa percaya diri anak. Memberikan dukungan yang baik/positif dan bekalilah ia dengan skill untuk menghindari olokan temannya serta kemampuan untuk bisa bersosialisasi dengan baik disaat ia menghadapi permasalahan. Sebagai contoh kita dapat mengajarkan anak untuk menghindari sebuah ejekan dari temannya. Misalnya jika ada temannya yang mengatakan “ Kamu nakal “, lantas jawaban yang tepat adalah, “ Aku lho…baik…”Anak yang terbiasa mengolok-olok pasti akan merasa bosan dengan jawaban yang demikian karena ejekannya tidak ditanggapi dengan serius serta tidak mendapatkan feedback sesuai dengan yang ia inginkan, misalnya dengan menangis, mengadu atau marah.

5.      Membangun kreatifitas dengan bermain bersama
Mengajarkan anak tidak harus selalu membuat "aturan baru" yang tidak menyenangkan baginya, akan tetapi bisa juga dengan cara bermain bersama. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menuangkan idenya saat bermain bersama, menari, menyanyi serta kegiatan yang membuat mereka senang dan lebih dekat dengan kita.

6.      Menjadi panutan dan idola bagi anak sendiri
Sebagian besar setiap anak memiliki idola "superhero" di dunia imajinasinya. Namun demikian di dunia yang sesungguhnya, ia juga pasti ingin memilikinya. Kita sebagai orang tua sebisa mungkin mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan sang anak dan selalu bisa diandalkan. Salah satunya adalah dengan melakukan apa pun yang menurut kita terbaik untuk bisa diberikan kepada anak. Dalam hal ini bisa juga kita kenalkan sosok rasulullah yang menjadi idola karena akhlaqnya yang mulia. Melalui cerita tentang rasulullah ini diharapkan anak anak akan muncul cinta dan rasa idola serta ingin meniru prilakunya diantaranya; rasulullah sebagai sosok yang sabar, jujur, amanah dan cerdas. 

7.      Mengajari tanggung jawab
Mengajarkan dan mengingatkan anak untuk selalu memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya. Misalnya jika telah tiba waktunya untuk sekolah, ia harus berangkat, apa yang musti dilakukan dan di siapkan. Jika ia bertanya mengapa harus demikian. Berikanlah alasan yang bisa dipahami oleh anak.

8.      Menumbuhkan sikap menghormati
Menumbuhkan dan mengajarkan anak untuk selalu menghormati siapa pun orangnya, baik orang yang lebih tua maupun teman sebayanya. Hal ini penting untuk ditumbuhkan semenjak usia dini sebab di kemudian hari saat ia telah dewasa ia dapat berlaku hormat kepada semua orang, menghargai orang lain, ini bisa kita latihkan sejak dini.

9.      Mengajarkan meminta maaf dan memaafkan
Meminta maaf atas sebuah kesalahan merupakan tindakan yang mulia dan kesatria. mengajarkan anak untuk mau meminta maaf dari sebuah kesalahan yang mungkin ia lakukan terhadap teman sebayanya merupakan upaya dalam menyadarkan anak bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah tindakan yang kurang terpuji. Begitu juga sebaliknya memaafkan saat teman melakukan kesalahan merupakan tindakan yang baik dan terpuji sehingga teman yang melakukan kesalahan mengerti apa yang sebaiknya dilakukan saat melakukan kesalahan. 

10.  Menghindari kebohongan
Seorang anak yang sering dibohongi saat masih kecil akan menjadi terbiasa dengan kebohongan yang ditanamkan oleh orang tuanya. Saat nanti ia dewasa, ia tentu akan menganggap berbohong adalah hal yang wajar dilakukan karena semua orang termasuk orang tuanya juga melakukannya.

11.  Menghindari menakuti
Menjadi orang tua biasanya cenderung mengambil "jalan pintas" yang mudah. Andalan selain berbohong, orang tua juga biasanya kerap menakuti anak, agar anak mau menuruti keinginan orang tua dengan segera. Hal ini merupakan perilaku orang tua yang keliru karena selain bisa menjadi sebuah trauma saat ia dewasa, hal ini juga mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri dan dapat mengurung kreatifitasnya.

12.  Menghindari mengancam dan berkata keras
Ada yang mengatakan bahwa anak itu seperti kertas putih yang kosong. Baik atau buruknya anak juga tergantung dari yang diajarkan orang tua kepadanya. Oleh karena itu mencoba untuk sebisa mungkin menghindari perkataan yang keras, mengancam, menyakiti atau bahkan meneriaki sang anak. Jika perilaku anak mungkin terkesan kurang baik, cobalah untuk menahan emosi dan menasehati dengan perkataan lembut serta bijaksana.

13.  Mengajak keterbukaan
Dikala kita memiliki waktu luang bersama dengan sang buah hati. Ajaklah berbincang dan cobalah untuk mencari tahu mengenai kesehariannya. Apa saja yang ia lakukan, apa yang membuat ia senang, apa yang membuatnya sedih atau bahkan yang membuatnya bersemangat. Dengan terbukanya sang anak, kita juga bisa mencari celah untuk bisa mengetahui sifat sang anak sekaligus menjadi inspirasi bagi orang tua. Orang tua yang baik dan bijak adalah orang tua yang dapat mengambil pengalaman serta pelajaran dari siapa pun termasuk dari anaknya sendiri.

Menyenangkan bukan, ketika kita sudah tahu cara yang tepat untuk bisa mendidik mereka. Menghantarkan mereka untuk siap menjalani kehidupan yang merupakan anugerah dan amanah yang di berikan oleh allah SWT. Semoga bisa menginspirasi. 

Oleh: Ursila, M. Pd (Guru TK Yaa Bunayya Surabaya)

DEKATKAN HATI ANAK DENGAN AL-QUR’AN


“Ajarilah anak-anak kalian mengenal 3 hal: mencintai Nabi kalian, mencintai keluarga beliau dan membaca Al-Qur’an. Karena sesungguhnya pembawa Al-Qur’an itu berada di bawah naungan singgasana Allah ta’ala, di hari dimana tidak ada naungan, kecuali naunganNya bersama para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Thabrani dan Ibnu Najr)

Al-Qur’an adalah ilmu di atas segala ilmu dan sumber petunjuk bagi seluruh manusia, Al-Qur’anlah yang akan menuntun bagaimana cara manusia meniti kehidupan sejak lahir hingga ajal menjemputnya nanti. Jika semua orang memahami keistimewaan dari Al-Qur’an, maka setiap orangtua akan berlomba untuk mengajarkan Al-Qur’an ini pada anaknya sejak usia dini dan tidak ada alasan untuk menunda-nundanya lagi.

Imam Hakim meriwayatkan dari Buraidah bahwa Nabi SAW, bersabda “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, mempelajari dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat nanti Allah akan memakaikan kepada kedua orangtuanya mahkota dari cahaya seperti cahaya matahari dan mengenakan kepada ke dua orangtuanya perhiasan yang tidak pernah ia kenakan sebelumnya ketika di dunia. Lantas keduanya bertanya, apa yang telah kami lakukan sehingga kami memperoleh semua ini? Allah menjawab “karena kamu telah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu”.

Jika kita menengok kembali sejarah masa lalu, betapa banyak para penghafal Al-Qur’an saat usianya masih kecil dan ini akan menjadi motivasi kita sebagai pendidik untuk bisa membuat anak-anak mengenal dan mencintai Al-Qur’an sejak dini.

Imam Syafi’I mengatakan “Aku telah menghafal Al-Qur’an ketika aku berumur 7 tahun dan aku telah menghafal kitab Al-Muwattha’ ketika aku berumur 10 tahun. Ibnu Sina ketika berumur 10 tahun ia telah menghafal Al-Qur’an. Ibnu Abbas mengatakan: Rasulullah telah wafat sewaktu usiaku menginjak 10 tahun sedang aku telah menghafal ayat-ayat muhkam. Sahl bin Abdillah At-Tastari berkata “Aku pulang pergi ke Madrasah belajar Al-Qur’an dan aku berhasil menghafalnya ketika usiaku 6 atau 7 tahun.”

Fenomena yang terjadi saatini, anak-anak kita sudah dikepung dengan media-media yang kurang mendidik. Lalu sudahkah mereka mencintai Al-Qur’an ketimbang gadget yang dikenalnya saat ini? Itulah tantangan kita sebagai orang tua dan pendidik, bagaimana hati anak-anak bisa dekat dengan Al-Qur’an dan mencintainya sedini mungkin? Bagaimana anak-anak bisa mencintai al –qur’an jika tidak mengenalnya?

Ibnu Sina mengungkapkan bahwa “apabila seorang anak telah memulai memahami pembicaraan, maka dimulailah belajar Al-Qur’an dengan memperagakan kepadanya cara mengucapkan huruf hijaiyah yang benar, kemudian dikenalkan pula pokok-pokok agama atau aqidah yang benar.”

Berikut ini kiat-kiat sederhana agar anak-anak dapat mencintai Al-Qur’an dan selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an: 

  1. Ketika ibu sedang mengandung, baca dan sering-seringlah memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an akan lebih utama dengan membiasakan membaca sendiri sebelum dan selama kehamilan.
  2. Perdengarkan pada anak ayat-ayat Al-Qur’an di rumah setiaphari, baik melalui VCD, TV atau ponsel. Cara ini tidak harus anak selalu memperdengarkannya, biarkan anak tetapbermain yang penting alunan atau suara dari ayat-ayat Al-Qur’an tetap terdengar. Karena meskipun anak focus pada permainannya, sebenarnya dia dapat mendengar ayat-ayat tersebut dan dengan sendirinya anak akan tertarik mendengarnya langsung bahkan menghafalnya
  3. Dalam mengajari anak membaca Al-Qur’an, lakukan secara konsisten. Buatlah agenda atau jadwal dengan menyesuaikan kondisi anak agar mengerti bahwa ada pola waktu-waktu tertentu anak belajar mengaji jangan menggunakan waktu bermain atau saat istirahat anak, karena hal ini membuat anak enggan untuk belajar.
  4. Orangtua tidak hanya mengajari anak membaca Al-Qur’an tetapi juga harus menjadi contoh bagi mereka dalam belajar Al-Qur’an. Agar anak lebih menyukai, mudah dan senang, orangtua hendaknya membaca di rumah setiap waktu. Ingatlah anak adalah peniru yang ulung, apa yang dilihat baik dalam rumah atau di luar rumah akan sangat mudah ditiru oleh sang anak.

Semoga kita termasuk orang tua yang  istiqomah dalam mendidik putra-putri kita untuk membaca,mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an. Aamiin.

oleh: Dra. Siti Fathimah (guru TK Yaa Bunayya Surabaya)