Showing posts with label Sentra. Show all posts
Showing posts with label Sentra. Show all posts

BERMAIN YANG BERMUTU




TAMAN YANG PALING INDAH
HANYA TAMAN KAMI
TAMAN YANG PALING INDAH 
HANYA TAMAN KAMI
TEMPAT BERMAIN,
BERTEMAN BANYAK,
ITULAH TAMAN KAMI
TAMAN KANAK-KANAK....

Sepenggal lagu ini menggambarkan bagaimana seru dan asyiknya bermain di Taman.
Ya,, Taman bermain yang disebut Taman Kanak-Kanak,,
Taman bermain yang diciptakan dg apik dan menjadi tempat bermain yang bisa digunakan sambil belajar. Belajar apa saja, karena jika anak-anak mendapatkan pengalaman bermain yang menyenangkan baik dengan benda, teman, atau orang dewasa di sekelilingnya, maka hal ini dapat mendorong anak-anak berkembang baik fisik, emosi, kognisi atau pola pikir dan sosialnya .

Namun, Taman Kanak-kanak sekarang ini banyak yang sudah bergeser fungsinya dari yang seharusnya.
Taman Kanak-kanak yang beralih menjadi Sekolah pra SD dan tidak mengutamakan lagi arti Bermain sambil Belajar, Belajar seraya Bermain.
Taman kanak-kanak yang menyamakan mereka dg tingkat SD untuk menstimulasi anak-anak.
Padahal lingkungan Taman kanak-kanak yang bermutu tinggi untuk anak usia pra sekolah harus mengandung tiga jenis bermain yaitu bermain sensorimotor, bermain peran, dan bermain pembangunan.
  1. Bermain sensorimotor maksudnya adalah anak usia dini belajar melalui inderanya dan melalui hubungan fisik dg lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor anak akan terpenuhi ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak secara bebas, bermain di halaman, di lantai, di meja, di kursi. Kebutuhan bermain sensori bisa dilakukan di indoor maupun outdoor. Kedua jenis lingkungan ini membuat anak berhubungan dengan beberapa jenis tekstur (halus, kasar) dan nantinya akan berpengaruh dengan berbagai kemampuan anak seperti konsentrasi agar fokus ketika belajar, persepsi visual agar mampu mengelola informasi dari penglihatan, dan ketrampilan motorik kasar maupun halus.
  2. Bermain peran adalah permainan umum yang sering kita lakukan, biasanya  kita menyebutnya main pura-pura. Selain membuat anak bisa membayangkan masa lalu atau masa depan (misal anak seolah-olah mempratikkan cara ibunya memasak, dimasa depan ingin jd dokter, dsb), bermain peran  juga bisa mengembangkna kreatifitas, daya ingat atau hafalan, kemampuan kosa-kata yang banyak, kerjasama kelompok, pemahaman tentang konsep keluarga, pemahaman unsur, emosi yang dirasakan orang dari sebuah peristiwa, kemampuan analisis masalah, konsep bangun ruang atau spasial, dan pengendalian diri ketika berinteraksi dg orang lain.

  3. Bermain Pembangunan, maksudnya adalah anak-anak sedang 'menyusun atau membangun' suatu pola. Ada dua jenis main pembangungan, yaitu pembangunan Cair dan terstruktur. Pembangunan cair dilakukan dengan bahan yang berhubungan dg cairan atau bahan alam seperti air, pasir, cat, krayon, spidol, playdough, dll, sehinggan anak-anak bisa mengolah bahan-bahan tersebut menjadi bentuk yang mereka inginkan. Bermain Pembangunan Terstruktur biasanya menggunakan bentuk yang sudah tersedia seperti balok unit, lego, balok berongga, dan bahan lainnya dimana anak-anak diarahkan utuk meletakkan bahan-bahan tersebut menjadi suatu karya baru. Bermain pembangunan membantu anak untuk mengembangkna ketrampilan yang akan mempengaruhi keberhasilan sekolahnya di kemudian hari, mempengaruhi ketrampilan interaksi dengan teman sebayanya, kemampuan berkomunikasi, kekuatan gerakan motorik halus dan kasar, koordinasi motorik, kemampuan berfikir abstrak, konsep matematika dan geometri, pengetahuan topologi atau tata ruang benda-benda, dan ketrampilan persepsi visual.
 Apa yang perlu kita sediakan di rumah kita, agar berbagai kebutuhan bermain sambil belajar ini terpenuhi?? klik disini



Mau masuk SD???? Harus Matang Dulu...!!!!

Ada fenomena menarik belakangan ini. Beberapa orangtua berusaha memasukkan anaknya ke jenjang sekolah dasar (SD) sedini mungkin. Bahkan, ada orangtua yang ingin memasukkan anaknya yang masih berusia 5,5 tahun hanya karena si orangtua khawatir, anaknya “ketuaan” saat masuk SD. Mereka juga merasa anaknya sudah siap masuk sekolah dasar, karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Coba, kurang apa lagi?

Ini jelas berbeda dari Lia Boediman, M.S..C.P., Psy, D., psikolog yang menghabiskan 22 tahun waktunya di Amerika dan baru kembali ke tanah air. Meski anaknya (5,5) sudah siap masuk sekolah dasar, tapi Lia malah menundanya. Semua itu sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk membicarakan dengan anaknya. Ternyata, anaknya pun setali tiga uang, ia masih ingin bersekolah di TK B dan belum mau masuk SD. Anaknya pun tak masalah bila nanti teman-teman sekelasnya di TK berusia lebih muda dari dirinya. Juga tak mengapa bila teman-teman seangkatannya di TK sudah berseragam merah putih alias duduk di kelas 1 sekolah dasar.

“Kalau usianya masih segitu, biarlah jika dia masih mau di TK B. Mungkin kalau usianya sudah 6 tahunan, pertimbangan saya, lain lagi. Bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, minimal anak harus berusia 7 tahun? Jadi, meski anak saya sudah siap, biarlah dia dimatangkan lagi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan juga kemandiriannya. Dengan begitu, ia siap belajar dan tidak kapok karena tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Saya ingin menanamkan pada anak, sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Begitu juga dengan belajar, learning is fun and interesting. Dengan begitu, ketika di SD mereka akan mempunyai regulasi diri, tanggung jawab akan belajar, dan ketertarikan akan sekolah,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

PASTIKAN ANAK MATANG

Menurut Lia, sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah, meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung saja tidak cukup. Itulah mengapa, untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah, banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah.
Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Bayangkan, secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri.
Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama. Repot, kan? Tidak hanya itu. Ia juga mudah tantrum atau menangis. Meski secara kognitif ia siap, namun ketidakmatangan emosi ini akan menghambatnya saat bersosialisasi; anak akan dijauhi, tidak disukai teman-teman di sekolahnya. Bukan tidak mungkin nantinya anak menjadi malas atau mogok sekolah. Bahaya, kan?

Bila anak masuk ke sekolah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan aspek lainnya, maka anak bisa saja mengejar ketertinggalan tersebut. Tapi bagaimana bila anak bersekolah di sekolah yang menekankan pada aspek kognitif semata? Di satu sisi kognitif anak akan semakin tinggi, tapi di sisi lain aspek yang kurang matang akan menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, aspek-aspek yang kurang matang akan semakin sulit berkembang, tertinggal jauh dari teman-teman lainnya yang sudah matang. Inilah yang akan menjadi masalah di kemudian hari, dimana di usia sekolah dasar anak harus terus-menerus disuruh belajar, lalu saat ujian orangtuanya stress karena sibuk belajar, menanya-nanya soal, membacakan, dan sebagainya. Nantinya, anak tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain, masih banyak dibantu, dan sulit untuk menjadi sukses.
“Ini yang tidak diinginkan, sehingga uji kematangan sebelum bersekolah perlu dilakukan.” Jadi tidak mentang-mentang bisa calistung, si kecil yang berusia 5 tahunan lantas bisa masuk sekolah dasar, ya, Bu-Pak.

KEMATANGAN MERUPAKAN PROSES

Kematangan anak untuk bersekolah merupakan proses yang terkait dengan aspek perkembangan anak secara keseluruhan dan proses ini dimulai sejak bayi. Kematangan anak harus dibina dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk mandiri, bisa bersosialisasi, dan sebagainya. Kenalkan dan ajarkan kemampuan tersebut di rumah sesuai dengan tahapan usia perkembangannya.
Jadi, kematangan bersekolah ini tidak dinilai atau dilihat saat anak mau masuk sekolah dasar saja. Tahun depan anak mau masuk SD, lalu kematangannya dinilai 6 bulan sebelumnya. Tidak demikian. Tes-tes kematangan sekolah yang diberlakukan di beberapa SD, pada intinya untuk melihat gambaran mengenai kekurangan dan kelebihan anak tersebut. Sekolah-sekolah biasanya akan menerima anak dengan menyeleksinya sesuai standar tertentu.
Padahal, untuk mengetahui kematangan bersekolah anak dibutuhkan tenaga psikolog anak professional. Maka itu, orangtua disarankan membawa anaknya ke psikolog anak professional, meski tidak dipungkiri beberapa sekolah sudah melibatkan psikolog anak professional dalam tes itu.
Informasi kematangan bersekolah anak ini diperoleh psikolog dengan cara mewawancarai orangtua si anak mengenai perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru TK sebelumnya, dan juga melakukan observasi pada anak langsung dengan bertanya, berinteraksi dengan bermain, dan mengobservasi lainnya. Dengan begitu dapat diketahui seperti apa perkembangan diri si anak. Selain itu, dilakukan pula tes intelegensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Lewat serangkaian proses itu dapat diperoleh rekomendasi, apakah anak sudah matang untuk melanjutkan ke jenjang SD atau tidak.

SETIAP ANAK BERBEDA

Kematangan setiap anak tentunya berbeda-beda. Selain dipengaruhi usia, juga oleh temperamen, cara belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, serta faktor lingkungan yang mendukungnya. Umumnya, pada anak-anak normal, di usia 6-7 tahun anak sudah matang alias siap untuk bersekolah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai masalah dengan perkembangannya, seperti ada hambatan kognitif, bahasa, dan sebagainya, tentunya di usia 7 tahun belum bisa masuk SD karena ada masalah tersebut.
Memang, di usia 6-7 tahun itu boleh jadi ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Apalagi dalam setiap aspek, misalnya, aspek bahasa terdiri atas beberapa komponen, begitupun aspek motorik, dan sebagainya, masing-masing ada komponennya.
Jadi, bisa saja anak secara aspek kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut.
Maka itu, pemilihan sekolah pun menjadi penting. Pilihlah sekolah yang menyeimbangkan semua aspek perkembangan anak. Tidak hanya kognitif, tapi juga aspek lainnya, sehingga semua aspek anak dapat terasah secara optimal.

KERJA SAMA ORANGTUA-SEKOLAH

Mengingat sistem pendidikan di tanah air yang cenderung kurang memberikan kematangan pada aspek lain selain kognitif, maka diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah (SD). Orangtua harus berperan aktif dengan cara mengenal baik anaknya, mengetahui bagaimana tahapan perkembangannya, mengetahui kekurangan dan kelebihan anaknya, sehingga orangtua tahu apa yang dapat dilakukannya atas kekurangan yang dimiliki agar menjadi lebih baik serta dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Contoh, orangtua melihat anak masih kurang mandiri, maka orangtua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contoh lain, aspek sosial anak tampak masih kurang, maka anak sering-sering diajak berinteraksi dengan temannya atau orang lain.
Pihak sekolah dasar juga seharusnya bisa melihat beban-beban yang diberikan kepada muridnya agar seimbang pada setiap aspek perkembangan. Menyediakan fasilitas untuk mendukung aspek-aspek perkembangan anak, misal, menyediakan ruang bermain seperti playground atau lapangan basket untuk mengasah kemampuan motorik anak.
Memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar anak, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan lewat bermain terutama pada usia-usia SD awal. Guru sekolah dasar juga sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan di usia sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan.

INDIKATOR KEMATANGAN BERSEKOLAH
 
1. Aspek FISIK
-  Motorik Kasar
- Bisa duduk tegap.
- Berjalan lurus dan bervariasi.
- Berlari.
- Melompat.
- Melempar.
- Memanjat.
- Naik turun tangga.
- Mengombinasi gerakan seperti lompat, jongkok, tegak dan berguling.
· Motorik Halus
- Dapat memegang pensil dengan baik.
- Menggambar orang atau sesuatu dengan lebih rapi tidak berantakan.
- Bisa makan sendiri.
- Menulis angka.
- Mewarnai.
- Menggunting.
- Menyusun lego.

2. Aspek BAHASA
- Memperkenalkan diri, nama, alamat, dan keluarga dengan jelas.
- Bercerita mengenai keadaan di rumah, sekolah, permainan, dan lain-lain.
- Menjawab pertanyaan.
- Menyanyikan lagu.
- Menyebutkan seluruh anggota badan.
- Menirukan huruf, suku kata, dan kata.

3. Aspek KOGNITIF
- Menerangkan mengenai sesuatu, misalnya kegunaan suatu benda.
- Mengenal warna.
- Mengetahui angka atau bilangan.
- Membedakan bentuk.
- Dapat mengelompokkan benda/sesuatu.
- Memahami konsep penjumlahan dan pengurangan.
- Membaca tanda-tanda umum seperti di jalan.
- Dapat berpikir lebih fleksibel dan sebab akibat.
- Rasa keingintahuan yang besar dan mencari tahu jawabannya.

4. Aspek SOSIAL-EMOSIONAL
- Bisa bermain secara interakstif dengan temannya.
- Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya.
- Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain.
- Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya.
- Dapat menolong orang lain/temannya.
- Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya.
- Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru.
- Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti.
- Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit.
- Bisa menunggu atau menahan keinginannya.
- Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan.

5. Aspek KEMANDIRIAN
- Sudah bisa makan sendiri.
- Pakai baju sendiri.
- Menyikat gigi sendiri.
- Toilet learning.
- Mulai dapat teratur pada rutinitas, seperti bangun tidur.

sumber:
http://www.kancilku.com/Ind//index.php

Percobaan di Kelas Sains

Ayah, bunda, ada beberapa percobaan sederhana yang benar-benar akan mengesankan buat anak-anak kita. Mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami penjelasan yang terletak di belakangnya, tapi mereka akan ingat untuk seumur hidup. Hal ini bisa sangat membantu mereka untuk memahami materi di kelas sains nanti ketika saatnya tiba dan bisa juga dilakukan di rumah untuk mengisi liburan,,

Trik Pensil

Peralatan
Sebuah plastik gula, beberapa pensil biasa, air.
Percobaan
Isi plastik gula dengan air secukupnya. Tusuk plastik itu menggunakan pensil di tengah-tengah seperti pada gambar. Lihat, plastiknya tidak pecah!
Penjelasan
Jika Anda menusuk plastik tersebut terlebih dahulu dan kemudian baru menuangkan air ke dalamnya, maka air akan merembes keluar melalui lubang-lubang yang telah Anda buat. Tetapi jika Anda mengisinya terlebih dulu dan kemudian baru menusukkan pensil, air tidak akan merembes keluar sama sekali. Ini adalah hasil dari fakta bahwa ketika plastik terkoyak oleh pensil, molekul dari plastik tersebut bergerak mendekat bersama-sama . Dalam hal ini, plastik gula tersebut mengencangkan sekitar pensil.

Telur Tenggelam

176505-R3L8T8D-650-5

Peralatan
2 butir telur, 2 gelas air, dan garam.
Percobaan
Letakkan telur di dalam segelas air. Perhatikan telur tersebut akan tenggelam, dengan catatan telur tersebut masih dalam kondisi baik.
Kemudian tuangkan air panas ke dalam gelas kedua, lalu larutkan 4-5 sendok makan garam di dalamnya. Tunggulah sampai temperatur air mendekati normal. Kemudian masukkan telur kedua ke dalamnya. Anehnya telur kedua ini akan mengapung di gelas yang kedua.
Penjelasan
Kuncinya di sini adalah kepadatan molekul yang menyusun telur dan air. Kepadatan rata-rata telur jauh lebih besar dari air murni, sehingga telur biasa akan jatuh ke dasar gelas. Sebaliknya larutan garam malah memiliki kepadatan molekul yang lebih tinggi dari telur, sehingga pada gelas yang kedua, telur akan mengambang.

 

Balon Tahan Api

 

Peralatan
2 balon, lilin, korek api, air.
Percobaan
Isi balon pertama dengan udara dan ikat. Kemudian dekatkan balon tersebut di atas lilin yang menyala, untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa api bisa menyebabkan balon tersebut meledak.
Kemudian isi balon kedua dengan air, lalu letakkan lagi balon tersebut diatas lilin. Anak Anda akan melihat bahwa setelah diisi air, balon dapat menahan panas dari api.
Penjelasan
Air di dalam balon menyerap panas yang diberikan oleh lilin, sehingga bahan balon itu tidak terbakar yang bisa membuatnya meledak.


Pelangi Kubis





Peralatan
4 gelas dengan air di dalamnya, pewarna makanan, beberapa daun kubis.
Percobaan
Tambahkan pewarna makanan yang berbeda untuk mewarnai setiap air dalam gelas, kemudian taruh daun kubis di dalamnya. Tinggalkan semalam. Di pagi hari daun akan berubah warnanya, sesuai dengan warna air di dalamnya.
Penjelasan
Karena tanaman menyerap air , daun mereka juga menyerap warna air itu. Ini dikenal sebagai efek kapiler, dimana air akan masuk ke dalam tubulus terkecil tanaman. Hal ini terjadi dengan bunga, rumput, dan bahkan pohon.

Permen Kristal

176255-R3L8T8D-650-2_2
175955-R3L8T8D-650-2

Peralatan
3 gelas plastik, stik bambu kecil, gula 1 kg, panci, pewarna makanan, jepitan baju
Percobaan
  • Buatlah sirup dengan mencampur gula bersama air dengan cara dididihkan. Setelah bercampur membentuk cairan bening, tuangkan pada gelas secukupnya.
Screenshot 2016-01-11 17.27.57
  • Setelah itu, ambil 1 gelas plastik bersih, isi dengan gula pasir sampai penuh. Biarkan. Ini akan menjadi bagian dari percobaan.
Screenshot 2016-01-11 17.31.53
  • Celupkan stik bambu bersih ke dalam gelas yang telah berisi air gula, aduk, sehingga gula mulai menempel pada stik tersebut. Pastikan larutan gula merata di sepanjang stik.
Screenshot 2016-01-11 17.30.05
  • Keluarkan stik tersebut, lalu masukkan ke dalam gelas gula pasir yang telah disiapkan. Gula pasir akan menempel pada stik tersebut.
Screenshot 2016-01-11 17.24.47
  • Kemudian ambil gelas plastik baru, isi dengan larutan gula, kemudian teteskan pewarna makanan di dalamnya.
Screenshot 2016-01-11 17.23.02
  • Setelah Anda mencampur air gula dengan pewarna, masukkan stik yang telah ditaburi gula ke dalam larutan air gula berpewarna tersebut. Pastikan posisi stik di tengah-tengah dan tidak menyentuh dasar ataupun dinding gelas.
Screenshot 2016-01-11 17.34.28
  • Kemudian biarkan hingga beberapa hari. Jika bagian atas gelas mengeras/mengkristal, retakkan dengan garpu, kemudian saring. Pindahkan ke gelas baru larutan gula yang masih encer, bersama dengan stik yang tentunya telah mulai ditumbuhi kristal gula. Terus ulangi sampai Anda mendapatkan ukuran kristal gula yang diinginkan.
Screenshot 2016-01-11 17.38.14

Penjelasan
Larutan gula yang menurun temperaturnya, akan menciptakan kristal gula yang biasa juga disebut dengan istilah karamel. Karamel ini terperangkap menempel dengan stik yang telah ditempelkan gula di sekelilingnya sehingga dapat membentuk permen yang indah.

  • Berikut video Lengkap Cara Pembuatannya


.

Selamat mencoba..........

Permainan untuk Mengenalkan Warna di Usia 2 tahun

 Memasuki usia 2 tahun si Kecil semakin aktif saja ya bun. Tidak hanya berjalan, ia kini sudah berani untuk berlari dan melompat. Kosakatanya pun semakin bertambah tiap harinya, sehingga ia sudah mampu menyebutkan nama hal-hal yang sering ia lihat, seperti benda-benda di dalam rumah, binatang, hingga orang-orang yang sering ditemuinya. Untuk mengasah kemampuan kognitifnya, ayo ajak si Kecil bermain mencocokkan warna sambil bergerak aktif!

Permainan ini bisa dilakukan di rumah dengan memanfaatkan barang-barang yang tersedia. Bagi si Kecil, kegiatan ini bisa menjadi sarana bermain sekaligus belajar, karena ia bisa mengenal jenis-jenis warna dengan lebih dalam.
  1. Siapkan benda-benda lainnya (Mainan si Kecil). Pertama-tama, Siapkan berbagai benda yang akan ditempelkan kertas warna. Benda yang digunakan bisa berasal dari mainan si Kecil atau benda lain yang tidak berbahaya. Letakkan benda-benda ini di berbagai sudut rumah, seperti di atas kursi, lantai, atau di area yang masih bisa dijangkau olehnya.
  2. Siapkan kertas warna
    Kedua, siapkan potongan kertas warna yang bagian belakangnya telah ditempelkan double tape. Agar lebih menarik, bunda bisa memotongnya menjadi bentuk yang unik, seperti segitiga, lingkaran, atau bentuk bintang.
  3. Saatnya bermain! Menempelkan kertas
    Saatnya bermain! Berikan si Kecil potongan kertas warna dan biarkan ia menjelajahi seisi rumah untuk menempelkannya di benda dengan warna serupa. Tetap awasi si Kecil ya Bun, agar ia tidak menggapai benda yang berbahaya dan berada di luar jangkauannya. Setelah berhasil menempelkan kertas warna pada benda yang tepat, ajak ia mengucapkan warna tersebut untuk melatih kemampuan bicaranya.

APA MANFATNYA????? 
Manfaat Bagi Bunda
Dengan permainan ini, Bunda dapat memerhatikan bagaimana si Kecil memahami dan melaksanakan instruksi yang Bunda berikan. Ada kalanya ia tidak berhasil mencocokkan warna dengan tepat dan melakukan kesalahan tersebut berulang-ulang. Di sinilah peran Bunda untuk memberinya semangat dan mengarahkannya kembali agar melakukan hal yang benar. Instruksi yang diberikan secara berulang akan mempermudah ia mengingat jenis warna dan menempelkannya di benda yang tepat.
Manfaat Bagi Si Kecil
Permainan ini dapat menjadi sarana si Kecil untuk mengenal jenis-jenis warna. Usahanya untuk meraih benda juga bisa melatih motorik kasarnya, seperti saat ia harus melompat untuk menjangkau barang di atas rak buku, atau saat ia harus membungkuk untuk mengambil benda di bawah meja. Baiknya lagi, si Kecil juga bisa menambah kosakata sekaligus melatih kemampuan bicaranya saat mengucapkan jenis-jenis warna.


Aktivitas yang dilakukan oleh si Kecil tentunya harus ditunjang dengan asupan makanan yang memiliki nutrisi lengkap untuk mendukung tumbuh kembangnya. Potongan buah apel, anggur, serta kacang almond yang disajikan dengan yogurt bisa dijadikan cemilan sehat untuk si Kecil. Kandungan Vitamin dari buah apel dan anggur, Mineral dari kacang almond, serta Probiotik dari yogurt merupakan kombinasi yang baik untuk pertumbuhan dan pencernaannya. Sajikan buah dan kacang tersebut dalam potongan kecil agar ia tidak tersedak.

Seperti Apa sih Belajar di Sentra yang Bermutu?


Anak-anak belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan perhatian orang dewasa menolong anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi, dan sosial. Teori dan penelitian bermain seharusnya menjadi dasar untuk program anak usia dini yang bermutu tinggi.
Seperti yang dikatakan Jean Piaget (1972)
"Anak-anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, dapat menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukan sendiri." 
Lingkungan bermain yang bermutu tinggi untuk anak usia dini mendukung tiga jenis bermain yang dikenal dalam penelitian anak usia dini (Weikart, Rodgers, & Adcock, 1971) dan teori  dari Erik Erikson, Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Anna Freud:
  • Sensorimotor atau Main Fungsional


Istilah ini diambil dari kerja Piaget dan Smilansky (1968). Maksudnya adalah anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika mereka disediakan kesempatan untuk berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan alat permainan, baik di dalam maupun di luar ruangan. Kebutuhan sensorimotor  anak didukung ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak secara bebas,  bermain di halaman atau di lantai atau di meja dan di kursi. Kebutuhan bermain sensorimotor anak didukung bila lingkungan baik di dalam maupun di luar ruangan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.
Anak dengan kemampuan gerakan yang terbatas seharusnya ditempatkan dalam berbagai cara sepanjang hari agar mereka dapat berhubungan penuh dengan kesempatan bermain. Tergantung pada berat ringannya kondisi yang membatasi gerak dan daya penggerak, pengasuh yang telah dilatih untuk anak dengan “kebutuhan khusus” mampu memberikan sebanyak mungkin
kesempatan untuk menambah macam gerakan dan meningkatkan perkembangan sensorimotor. Setiap usaha dibuat untuk menyediakan serangkaian penuh pengalaman sensorimotor masing-masing anak. Contohnya, tempat tidur ayunan dan ayunan luar yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anak yang tertantang secara fisik untuk berayun disamping teman yang tidak dengan kebutuhan khusus. 

  • Main Peran (Mikro dan Makro)

Main peran juga disebut main simbolik, pura-pura, make-believe, fantasi, imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygosky, 1967; Erikson, 1963). Main peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan pengambilan sudut pandang spasial, keterampilan pengambilan sudut pandang afeksi, keterampilan pengambilan sudut pandang kognisi. (Gowen, 1995).
Main peran membolehkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu. Mutu pengalaman main peran tergantung pada variabel di bawah ini:

  1. Cukup waktu untuk bermain (penelitian menyarankan paling sedikit satu jam). 
  2. Ruang yang cukup, sehingga perabotan tidak penuh sesak, alat-alat mudah dijangkau, dan paling sedikit empat sampai enam anak dapat bermain dengan nyaman
  3.  Alat-alat untuk mendukung bermacam-macam adegan permainan. 
  4. Orang dewasa yang dapat memberi pijakan bila dibutuhkan untuk meningkatkan keterampilan main peran anak.

Hubungan sosial yang dibangun hingga menjadi main peran pada anak usia 12 – 36 bulan sebaiknya didukung untuk anak yang berkebutuhan khusus maupun tidak. Orang dewasa harus peduli terhadap ekspresi wajah bahwa wajah sebagai mainan pertama, menjawab dengan senyuman, hubungan timbal balik, ekspresi seluruh badan, rasa cemas terhadap orang-orang yang tidak dikenal, dan permainan dengan gerakan badan inilah menjadi dasar yang penting pada main peran selanjutnya.
Erik Erikson (1963) menjelaskan dua jenis main peran: mikro dan makro. Main peran mikro anak memainkan peran dengan menggunakan alat bermain berukuran kecil, contoh kandang dengan binatang-binatangan dan orang-orangan kecil. Main peran makro anak bermain menjadi tokoh menggunakan alat berukuran besar yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran, contoh memakai baju dan menggunakan kotak kardus yang dibuat menjadi mobil-mobilan atau benteng.
Sentra main peran harus ada di dalam dan di luar, mendukung anak dengan alat dan perlengkapan untuk bermacam-macam main peran. Untuk anak tiga sampai enam tahun dengan perkembangan terlambat dari anak usia dini, alat harus mendukung tema selain dari tema sekeliling

  • Main Pembangunan (Sifat Cair/bahan Alam & Terstruktur)

Main pembangunan juga dibahas dalam kerja Piaget (1962) dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan keterampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Dr. Charles, H. Wolfgang, dalam bukunya yang berjudul School for Young Children (1992), menjelaskan suatu tahap yang berkesinambungan dari bahan yang paling cair atau messy, seperti air, ke yang paling terstruktur, seperti puzzle. Cat, krayon, spidol, play dough, air, dan pasir dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam. Balok unit, LegoTM, balok berongga, Bristle BlockTM, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut bersama menjadi sebuah karya, dianggap
sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat mengekspresikan dirinya dalam bahan-bahan ini mengembangkan dari main proses atau main sensorimotor yang kami lihat pada anak usia di bawah tiga tahun ke tahap main simbolik yang kami lihat pada anak usia tiga – enam tahun yang dapat terlibat dalam hubungan kerja sama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.
Anak harus memiliki waktu untuk bermain, tempat untuk bermain, perabotan yang tepat untuk mendukung main mereka, dan pijakan dari guru ketika dibutuhkan. Dengan konsep ini dalam pikiran orang dewasa dalam lingkungan anak usia dini harus ditekankan untuk menyediakan tiga jenis main, intensitas dan densitas dari pengalaman bermain.
Contoh: Anak dibolehkan untuk memilih dari serangkaian kegiatan main setiap hari yang menyediakan kesempatan untuk terlibat dalam main peran, pembangunan dan sensorimotor.

Konsep intensitas (sejumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk pengalaman dalam 3 jenis main sepanjang hari & sepanjang waktu) menekankan pada jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk berpindah melalui tahap perkembangan kognisi, sosial, emosi, dan fisik yang dibutuhkan agar dapat berperan serta dalam keberhasilan sekolah kemudian hari.
Contoh: Anak-anak harus memiliki pengalaman harian yang membolehkan mereka untuk berhubungan dengan bahan pembangunan sifat cair yang menyediakan kesempatan untuk menggambar, melukis, dan keterampilan awal menulis. Bahan-bahan seperti kertas dengan tekstur, ukuran, dan warna yang berbeda, dengan spidol dan krayon, papan lukis dengan kertas berbagai ukuran dan kuas-kuas akan membantu anak sepanjang waktu untuk berkembang melalui tahap awal dari corat-coret ke penciptaan sesuatu yang mewakili wujud nyata dan tahap awal dari corat-coret ke menulis kata dan kemudian kalimat.
 
Konsep dari densitas (berbagai macam cara setiap anak yang disediakan untuk mendukung pengalaman anak) menekankan pada kegiatan yang berbeda yang disediakan untuk anak oleh  orang dewasa di lingkungan anak usia dini. Kegiatan-kegiatan ini harus memperkaya kesempatan pengalaman anak melalui tiga jenis main dan dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak.
Contoh: anak dapat menggunakan cat di papan lukis, nampan cat jari, cat dengan kuas kecil di atas meja, dan sebagainya, untuk melatih keterampilan pembangunan sifat cair. Anak-anak dapat menggunakan balok unit (Pratt), palu dengan paku dan kayu, sisa-sisa bahan bangunan dengan lem tembak, dan LegoTM untuk berlatih keterampilan pembangunan terstruktur. Kebanyakan tempat main peran hanya untuk “kerumahtanggaan” yang hanya diminati oleh anak perempuan. Sedangkan pengalaman seperti klinik dokter gigi, tempat bangunan, rumah makan dengan kolam ikan di bagian luar, dan lain-lain, direncanakan sepanjang tahun menarik baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki dalam main peran yang terlibat dan densitas dari jenis permainan yang disediakan.
Penelitian dan teori mendukung pengalaman bermain sebagai sebuah dasar untuk program anak usia dini yang bermutu, tetapi semua anak tidak mendapatkan keuntungan secara penuh tanpa rencana, penataan lingkungan, dan pijakan orang dewasa untuk pengalaman. Pengalaman bermain anak seharusnya direncanakan dengan hati-hati dan diberi pijakan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak. Empat langkah pijakan berikut ini untuk mencapai mutu pengalaman main (CCCRT, 1999):
  • Pijakan Lingkungan Main 
  • Pijakan Pengalaman Sebelum Main
  • Pijakan Pengalaman Main Setiap anak 
  • Pijakan Pengalaman Setelah Main

Sejumlah orang dewasa yang bekerja pada program anak usia dini berpikir cukup hanya mengambil beberapa buku dari rak buku untuk dibaca dan membiarkan anak berlari secara bebas ke kelas atau ke halaman sementara mereka berdiri dan bicara pada anak lain. Pengalaman main yang bermutu membutuhkan orang dewasa yang tahu tahap perkembangan setiap anak dalam setiap jenis main. Orang dewasa ini harus menggunakan informasi tersebut untuk merencanakan, menata, memberi pijakan yang diperkaya dengan keaksaraan pengalaman main. Pengalaman-pengalaman ini harus mendukung perolehan keterampilan dan pengetahuan yang mendukung keberhasilannya di sekolah kemudian hari