Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Seminar Parenting Bersama bu Ida S. Widayanti

Alhamdulillah, acara seminar parenting tahun ini berjalan dengan lancar.
Semula seminar ini akan di adakan untuk Wali murid KB-TK Yaa Bunayya saja. Namun karena 'eman' materinya yang sangat bagus dan berbobot, atas usulan dari banyak pihak juga, maka kami suguhkan untuk para orangtua dimanapun yang ingin tholabul 'ilmi untuk menjadi orangtua hebat berkarakter. Diadakan pas week end supaya banyak orangtua pekerja bisa ikut bergabung. Tepatnya Sabtu,13 Oktober 2018. Waktu yang ceria untuk menambah dan nge-cange keParentingan.
Target peserta kami hanya 200an peserta, alhamdulillah peserta membludak 250 peserta, yang sudah memadati gedung SMP-SMA Luqman Al-Hakim di lt.4. Acara yang di dampingi moderator Ust. Wida ini di mulai tepat pukul 08.00 WIB, di awali dengan pembacaan ayat Al-Quran Surat Luqman ayat 17-18 yang artinya:
" Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlan (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesuangguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang sombong lagi membanggakan diri"

Berikut Resume dari beberapa walimurid dan peserta yang datang (kami copas dari FB Yaa Bunayya Surabaya), selamat membaca...:
"Mendidik Karakter dengan Karakter"
Orang Tua...
Ayah dan Bunda...
Mama dan Papa..
Abi dan Ummi...
Pekerjaan yang tidak di rekrut dari jenjang pendidikan. Pekerjaan yang dimulai setelah sang buah hati kita lahir dan akan pensiun jika kita sudah habis masa kerja kita di dunia. Dibandingkan profesi yang lain, profesi orangtua merupakan profesi yang tidak tersiapkan. "Orangtua memberikan pengaruh yang bersifat selamanya untuk sang anak..."
Siapa yang disebut Orangtua..?

-- Ibu---
Zaman dulu seorang Ibu akan berkutat dengan pekerjaan rumah, Anak, dan suami dari terbit matahari hingga terbenam, tapi jaman NOW...? banyak para Ibu yang terkadang sebagian besar waktunya dipakai untuk memegang hp dan gadget sembari menjaga "melihat" sang buah hati.
😉 Ingat! Anak adalah sang peniru ulung yang lebih cepat belajarnya ketika melihat daripada mendengar. Akhirnya sang buah hatipun berbuat demikian. Waktu demi waktu dipakai untuk melihat hp dan gadget. Dan akibatnya...? anak menjadi BLAST
B bored
L lonely
A angry
S stress
T tired
.
Padahal usia anak2 0-4 tahun adalah usia penting yang merupakan masa emas tumbuhnya berbagai kecerdasan baik Intelektual, Emosi dan Spiritual.
Karakter seorang Ibu bisa dilihat dari Ucapan dan Tindakan. Oleh karena itu Pikiran...Perasaan seorang Ibu harus selaras dengan Tindakan dan Ucapannya.

Kadang kita marah dengan suatu hal... Sampai berkata " Kamu anak yang nakal...nggak bisa diam" kadang disertai tarikan ... cubitan dll. Padahal dalam hati dan perasaannya sang Ibu ingin agar anaknya lebih tenang.
Pikiran dan perasaan Ibu sdh benar...tapi kenapa tdk selaras dengan Tindakan dan Ucapannya yang keluar

Wahai para Ibu...ingatlah...Apa yang kita pikirkan...Apa yang kita rasakan.. Apa yang kita Lakukan...Apa yang kita ucapkan...Semua itu adalah DOA...

Oleh karena itu Ibu harus memiliki Emosi yang Tenang..Sehingga ucapan dan tindakan yang keluar adalah bentuk komunikasi yang bermutu dan efektif untuk membentuk karakter sang anak. Karena "karakter itu bukan dilahirkan tapi karakter itu dibentuk"
Karakter Ibu yang baik akan menciptakan karakter anak yang baik pula.

--- Ayah---
Ayah....adalah pekerjaan laki2 utama. Porsi komunikasi Ayah dan anak harusnya jauh lebih banyak dibandingkan sang Ibu.
Seperti yang digambarkan dalam AL Quran. Ayat yang menyebutkan tentang komunikasi antara Ayah dan Anak lebih banyak...yakni sebanyak 14 dialog. Dibandingkan sang Ibu dan anak yang hanya 2 dialog.

Maka Ayah..Pekerjaanmu diluar bukanlah pekerjaan utama. Itu semua hanya pekerjaan sampingan.
Komunikasi Ayah dan Anak harus didukung oleh
📚Mimik, Jaga tatapan agar terjadi kontak mata, dan ekspresi yang baik, penuh atensi.
📚 Gestur, Jaga bahasa tubuh sehingga tidak kaku dan angkuh. Usahakan mata kita selevel dengan anak.
📚 Suara, Gunakan prinsip THE LOWER THE STRONGER

Agar nasehat bisa di dengar, semakin rendah suara maka pengaruhnya akan semakin kuat .
Seperti nasehat Luqman untuk anaknya yang diukir indah di Al quran

Maka, para orangtua...!!! Camkan! Apa yang kita ucapkan, rasakan, pikirkan dan diusahakan adalah DOA. Oleh karena itu selalu ucapkan, rasakan, pikirkan dan usahakan apa yang kita INGINKAN.
Itulah sebabnya bagi para ayah mulai sekarang jangan pernah ABAIKAN lagi peran kepengasuhan anak, sehingga dapat mencetak generasi yang berkarakter.

BAGAIMANA LGBT BERPENGARUH DALAM KELUARGA

Foto di ambil dari google
(by : Iramawati Oemar)
•••••••
Berikut ini adalah KISAH NYATA, pengalaman pribadi dari salah satu teman FB saya, Neng Lifa, yang menuliskan testimonial pengalamannya ketika mendampingi seorang Ibu yang anak-anaknya menjadi korban kejahatan seksual dari pengidap kelainan homoseks.
Kesaksiannya yang ditulis di kolom komentar status FB saya sebelumnya, atas ijin yang bersangkutan akan saya rangkum dan tuliskan kembali, disertai opini pribadi saya.
Berikut cerita Neng Lifa :
👇👇👇
Tahun 2012 saya membantu seorang ibu yang minta tolong karena anaknya yang berumur 3 tahun mengeluh sakit pada duburnya. Ketika kami bawa puskesmas ternyata anak tersebut disodomi oleh "pacar" bapaknya, yang diakui sebagai keponakan oleh sang bapak. Sudah 17 tahun yang katanya ponakan itu tinggal satu atap dengan mereka. Celakanya, selama 17 tahun ternyata sang bapak dan keponakan abal-abal itu adalah sepasang kekasih sejenis.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata anak mereka yang pertama, saat itu sudah berumur 16 tahun dan anak yang berumur 10 tahun turut pula disodomi. Kemudian kedua anak tersebut bermutan alias ketularan perilaku menyimpang dan kemudian menyodomi anak tetangga mereka.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Kami sudah berusaha membawa mereka ke TP2TPA DKI bahkan ke kepolisian namun mentok, karena si ibu harus mengeluarkan biaya visum sendiri yang tidak sedikit.
Juga tekanan dari suaminya. Belakangan, suaminya kabur bersama "keponakan" alias pacar sejenisnya.
Akhirnya kasus tersebut mengendap.
Dan yang paling menyakitkan bagi si Ibu, dia mendapatkan "hadiah" dari sang suami, Ibu itu terinveksi HIV AIDS.
Selama 17 tahun hidup bersama suami dan juga serumah dengan "keponakan" suaminya, Ibu itu sama sekali tidak melihat kejanggalan perilaku suaminya.
Bahkan dia tidak tahu kalau kedua anaknya sudah lama menjadi korban kebiadaban nafsu syahwat keji (saya tak tega menulis nafsu binatang, karena binatang saja belum tentu sebejat Itu) pacar si bapak. Jika saja anak bungsunya yang baru umur 3 tahun tidak menderita kesakitan, mungkin perilaku iblis laknatullah dari bapak dan pacar sejenisnya itu akan terus berlanjut.
*** *** ***
Itu baru sekelumit contoh bahwa homoseksual adalah penyakit penyimpangan seksual, yang dampaknya sangat rentan menular kepada orang lain, meski masih dibawah umur sekalipun dan meski itu orang terdekat sekalipun.
Si kekasih gelap sejenis dari bapak yang biseksual itu tidak cukup hanya melampiaskan nafsu syahwat bejatnya kepada pria beristri yang "berselingkuh" dengannya, namun juga "memangsa" anak-anak dari kekasih sejenisnya. Tidak hanya satu anak, tapi sampai 3 anak. Tidak hanya yang sudah usia sekolah, yang balita pun diembat juga.
Bandingkan seandainya bapaknya berselingkuh dengan perempuan lain, meski sama-sama tidak bisa dibenarkan dari sisi hukum agama maupun dari sisi norma sosial, maka perselingkuhan itu hanya akan terjadi antar si bapak dengan kekasih gelapnya. Tidak akan memakan korban anak-anaknya.
Andaikan pun kekasih gelap si bapak itu adalah perempuan jalang yang tidak puas dengan hanya 1 kekasih gelap, maka dia akan berselingkuh dengan om-om lainnya, tidak memangsa anak di bawah umur.
Alangkah dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh pasangan homoseks tersebut.
Setidaknya, ada 3 anak kandung dari pelaku biseksual yang jadi korban langsung. Belum lagi 2 anak yang sudah lebih dulu menjadi korban sodomi kemudian ber'mutasi' menjadi pelaku, dengan men-sodomi anak-anak tetangganya. Entah berapa keseluruhan korban akibat "PENULARAN" perilaku seks menyimpang kaum homoseksual.
Anak-anak yang seharusnya masih berperilaku normal layaknya anak seusianya, masih mampu mengontrol hasrat seksual yang sepadan bagi anak yang tumbuh kembang normal tanpa terpapar pengalaman seksual abnormal, telah berubah menjadi predator bagi sesamanya, bagi anak seusianya.
Belum lagi si Ibu yang menanggung derita berlipat ganda. Sudahlah suami ketahuan selingkuh, selingkuh dengan sejenis pula, selingkuhan suaminya memangsa anak-anaknya, dia mendapat warisan penyakit HIV AIDS yang pengobatannya tidak murah dan tidak dijamin bisa sembuh, terakhir sang suami malah minggat meninggalkan setumpuk derita yang harus ditanggungnya sendiri.
Bagaimana nasib ketiga anaknya yang semestinya harus mendapatkan terapi dan pendampingan secara serius dan intensif sampai benar-benar bisa sembuh lahir dan batin. Luka fisik dan psikisnya harus diobati sebelum mereka tumbuh jadi remaja dan dewasa yang buas dan menjadi predator berikutnya.
Para pembela, pendukung dan pembenar perilaku LGBT, dengan dalih HAM, bersediakah mereka membentuk crisis center untuk membantu dan mendukung sepenuhnya para korban perilaku menyimpang dari pelaku LGBT?!
Bukankah orang-orang yang telah mereka tularkan penyakit sosial itu sesungguhnya punya hak azasi juga untuk hidup normal tanpa dibayangi pengalaman pahit disodomi dan terpicu mensodomi orang lain lagi?!
Korban-korban berantai ini harus juga dilindungi HAM-nya. Jadi jika ada pelaku LGBT yang merugikan orang atau anak yang tadinya normal, seharusnya ada yang menanggung kerugian itu, minimal secara materi agar mereka bisa mendapatkan terapi dan rehabilitasi psikis yang memadai, yang tentunya biayanya tidak sedikit. Apalagi kalau secara fisik juga sudah terinfeksi HIV AIDS.
Dengan banyaknya kisah nyata korban kebejatan perilaku kaum LGBT, masihkah menganggap LGBT fine aja hidup bebas dan tumbuh kembang di sekitar kita?!
Masihkah berpendapat itu bukan penyakit, hanya varian saja dari kecenderungan seksua!?!
Masihkah santai saja dan bisa 'nrimo' dan 'legowo' jika korban itu adalah keponakan anda, adik anda, anak anda dan orang-orang yang anda kasihi?!
Yakin anda akan bilang "gak masalah, anak saya disodomi kaum homo. Santai aja bro, itu bukan penyakit kok!"
Jika anda tak ingin orang terkasih menjadi korban LGBT, maka jangan pernah berkata "LGBT harus dilegalkan" atau "terimalah LGBT karena itu bagian dafi hak azasi manusia".

HOMESCHOOLING UNTUK ANAK BALITA

Yang lagi trend dan jadi pilihan keluarga dewasa ini untuk pendidikan anak2 mereka adalah dengan Homeschooling. Entah karena merasa cara ini sudah sesuai dan tepat untuk anak2 mereka atau pernah merasa kecewa dan trauma dg sistem pendidikan yang ada. Namun tidak dipungkiri kalau cara ini sudah banyak peminat dan sudah banyak juga yang membuka Homeschooling di rumah untuk dikomersialkan.

Sekolah rumah atau Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orangtua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.
Foto kegiatan di sentra seni KB-TK Yaa Bunayya

Saat orangtua memutuskan untuk meng-Homschooling-kan anak mereka (terutama anak balita), ada banyak persiapan yang harus diperhatikan agar kebutuhan bermain sambil belajar tetap terpenuhi.
Apa saja yang perlu disediakan dan disiapkan dirumah?
Berikut beberapa cara yang bisa menjadi perhatian kita:
  1. Membantu anak memuaskan rasa penasaran. Mari kita memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan mencoba memainkan benda-benda yang ditemui atau yang ada di lingkungan sekitar anak. Jangan terlalu banyak melarang, misal: takut kotor, jatuh, celaka, rusak atau sejenisnya. Anak ingin mengungkapkan rasa ingin tahu terhadap benda-benda tersebut, dan rasa ingin tahu ini tidak boleh 'dipotong' dengan larangan tanpa memberikan alternatif 'pemenuhan rasa ingin tahu' yang lain
    Foto kegiatan menggunting di sentra Imtaq KB-TK Yaa Bunayya
  2. Menyediakan perlengkapan bermain yang bersifat edukasi dan variatif. Kita bisa menyediakan bahan-bahan alami seperti air, biji2an, tepung terigu, tepung tapioka, play dough, pewarna makanan, pasir, dsb. Bahan2 ini sangat baik untuk meningkatkan kemampuan sensorimotor anak. Bahan2 seperti boneka atau tiruan perlengkapan rumah tangga bisa menjadi sarana bermain peran. Mainan yang bisa dibangun seperti lego, puzzle, penjepuit jemuran, balok berbagai ukuran, dan balok warna akan sangat baik untuk mengasah logika anak2. 
    Foto Kegiatan membuat karya di sentra Seni KB-TK Yaa Bunayya
  3. Memastikan bahan dan peralatan bermain aman digunakan anak. Apabila ada gunting atau staples, kita perlu memberi tahu anak cara penggunaannya yang aman, atau ada orang dewasa yang mendampingi.
Melihat anak2 bermain artinya akan melihat keceriaan mereka. Memberikan kesempatan untuk bermain akan menciptakan ruang eksplorasi untuk belajar berbagai hal baru. Dan mendampingi anak bermain akan menjadi kesempatan untuk memberikan sentuhan proses belajar di dalam proses bermain itu. Mari kita nikmati ketika melihat anak bermain, sambil tetap menahan diri untuk melarang secara berlabihan ketika mereka bereksplorasi.
Foto kegiatan eksplor air dan berenagn di KB-TK Yaa Bunayya Surbaya

BERMAIN YANG BERMUTU




TAMAN YANG PALING INDAH
HANYA TAMAN KAMI
TAMAN YANG PALING INDAH 
HANYA TAMAN KAMI
TEMPAT BERMAIN,
BERTEMAN BANYAK,
ITULAH TAMAN KAMI
TAMAN KANAK-KANAK....

Sepenggal lagu ini menggambarkan bagaimana seru dan asyiknya bermain di Taman.
Ya,, Taman bermain yang disebut Taman Kanak-Kanak,,
Taman bermain yang diciptakan dg apik dan menjadi tempat bermain yang bisa digunakan sambil belajar. Belajar apa saja, karena jika anak-anak mendapatkan pengalaman bermain yang menyenangkan baik dengan benda, teman, atau orang dewasa di sekelilingnya, maka hal ini dapat mendorong anak-anak berkembang baik fisik, emosi, kognisi atau pola pikir dan sosialnya .

Namun, Taman Kanak-kanak sekarang ini banyak yang sudah bergeser fungsinya dari yang seharusnya.
Taman Kanak-kanak yang beralih menjadi Sekolah pra SD dan tidak mengutamakan lagi arti Bermain sambil Belajar, Belajar seraya Bermain.
Taman kanak-kanak yang menyamakan mereka dg tingkat SD untuk menstimulasi anak-anak.
Padahal lingkungan Taman kanak-kanak yang bermutu tinggi untuk anak usia pra sekolah harus mengandung tiga jenis bermain yaitu bermain sensorimotor, bermain peran, dan bermain pembangunan.
  1. Bermain sensorimotor maksudnya adalah anak usia dini belajar melalui inderanya dan melalui hubungan fisik dg lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor anak akan terpenuhi ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak secara bebas, bermain di halaman, di lantai, di meja, di kursi. Kebutuhan bermain sensori bisa dilakukan di indoor maupun outdoor. Kedua jenis lingkungan ini membuat anak berhubungan dengan beberapa jenis tekstur (halus, kasar) dan nantinya akan berpengaruh dengan berbagai kemampuan anak seperti konsentrasi agar fokus ketika belajar, persepsi visual agar mampu mengelola informasi dari penglihatan, dan ketrampilan motorik kasar maupun halus.
  2. Bermain peran adalah permainan umum yang sering kita lakukan, biasanya  kita menyebutnya main pura-pura. Selain membuat anak bisa membayangkan masa lalu atau masa depan (misal anak seolah-olah mempratikkan cara ibunya memasak, dimasa depan ingin jd dokter, dsb), bermain peran  juga bisa mengembangkna kreatifitas, daya ingat atau hafalan, kemampuan kosa-kata yang banyak, kerjasama kelompok, pemahaman tentang konsep keluarga, pemahaman unsur, emosi yang dirasakan orang dari sebuah peristiwa, kemampuan analisis masalah, konsep bangun ruang atau spasial, dan pengendalian diri ketika berinteraksi dg orang lain.

  3. Bermain Pembangunan, maksudnya adalah anak-anak sedang 'menyusun atau membangun' suatu pola. Ada dua jenis main pembangungan, yaitu pembangunan Cair dan terstruktur. Pembangunan cair dilakukan dengan bahan yang berhubungan dg cairan atau bahan alam seperti air, pasir, cat, krayon, spidol, playdough, dll, sehinggan anak-anak bisa mengolah bahan-bahan tersebut menjadi bentuk yang mereka inginkan. Bermain Pembangunan Terstruktur biasanya menggunakan bentuk yang sudah tersedia seperti balok unit, lego, balok berongga, dan bahan lainnya dimana anak-anak diarahkan utuk meletakkan bahan-bahan tersebut menjadi suatu karya baru. Bermain pembangunan membantu anak untuk mengembangkna ketrampilan yang akan mempengaruhi keberhasilan sekolahnya di kemudian hari, mempengaruhi ketrampilan interaksi dengan teman sebayanya, kemampuan berkomunikasi, kekuatan gerakan motorik halus dan kasar, koordinasi motorik, kemampuan berfikir abstrak, konsep matematika dan geometri, pengetahuan topologi atau tata ruang benda-benda, dan ketrampilan persepsi visual.
 Apa yang perlu kita sediakan di rumah kita, agar berbagai kebutuhan bermain sambil belajar ini terpenuhi?? klik disini



Cara Mengenali Bakat Anak

Ayah, bunda,,, mau tahu cara mengetahui bakat anak2 kita??
Pakar Psikologi pendidikan UI Pro. Dr.S.C Utami munandar menyatakan, bahwa "Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa di dapat dari tekun mempelajari sesuatu. Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya, biarpun dikursuskan musik sehebat apapun, ya, kemampuannya segitu-gitu saja. Tak akan berkembang, Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tidak menunjang, ia pun tak akan berkembang, Misalnya jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam."

Kita tentu tidak ingin kecolongan memiliki anak berbakat, namun kita juga tidak cukup peka untuk melihat bakanya sejak dini, sehingga terjadilah bakatnya terpendam. Nah, berikut ini, tips untuk mengenali bakat ananda:
  1. Anak tidak merasa terpaksa. Hal ini kita lihat ketika anak menunjukkan perasaan senang melakukan aktifitasnya dan ada perasaan bahagia yang terpancar ketika melihat atau hanya dengan mendengarnya saja.
  2. Anak  punya rasa ingin tahu yang besar. Anak bisa menunjukkan sikap aktif dalam mencari informasi, misalnya anak yang tahan berjam-jam membaca tentang macam-macam pesawat, atau anak yang selalu bertanya tentang musik.
  3. Anak mampu berkonsentrasi dan cenderung tekun. Anak yang berbakat ngedance, bisa tahan menari berjam-jam tanpa mengeluh lelah.
  4. Anak tampak mahir terhadap hal tersebut meski dia belum mendapatkan pelajaran khusus.
  5. Setelah diberi pelajaran khusus, anak dengan mudah menguasainya.

Dan, hal yang perlu disediakan orangtua agar bakat anaknya berkembang secara baik adalah:
  1. Orangtua perlu memberikan perhatian, motivasi, dan dukungan
  2. Orangtua perlu memberikan pengetahuan dan wawasan yang luas.
  3. Orangtua perlu memfasilitasi latihan bakat anak.
  4. Orangtua perlu menyediakan sarana yang dibutuhkan.
  5. Orangtua perlu membangun kerjasama.
  6. Orangtua perllu mengenalkan anak pada teladan.

    Copas dari buku parenting guide "Ani Christina"

Masuk SD? Ini Bekalnya

Foto diambil dari fb Luqman Al Hakim Sby
MATANG DAHULU, MASUK SD KEMUDIAN

Ada fenomena menarik belakangan ini. Beberapa orangtua berusaha memasukkan anaknya ke jenjang sekolah dasar (SD) sedini mungkin. Bahkan, ada orangtua yang ingin memasukkan anaknya yang masih berusia 4,5 tahun hanya karena si orangtua khawatir, anaknya “ketuaan” saat masuk SD. Mereka juga merasa anaknya sudah siap masuk sekolah dasar, karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Coba, kurang apa lagi?

Ini jelas berbeda dari Lia Boediman, M.S..C.P., Psy, D., psikolog yang menghabiskan 22 tahun waktunya di Amerika dan baru kembali ke tanah air. Meski anaknya (5,5) sudah siap masuk sekolah dasar, tapi Lia malah menundanya. Semua itu sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk membicarakan dengan anaknya. Ternyata, anaknya pun setali tiga uang, ia masih ingin bersekolah di TK B dan belum mau masuk SD. Anaknya pun tak masalah bila nanti teman-teman sekelasnya di TK berusia lebih muda dari dirinya. Juga tak mengapa bila teman-teman seangkatannya di TK sudah berseragam merah putih alias duduk di kelas 1 sekolah dasar.

“Kalau usianya masih segitu, biarlah jika dia masih mau di TK B. Mungkin kalau usianya sudah 6 tahunan, pertimbangan saya, lain lagi. Bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, minimal anak harus berusia 7 tahun? Jadi, meski anak saya sudah siap, biarlah dia dimatangkan lagi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan juga kemandiriannya. Dengan begitu, ia siap belajar dan tidak kapok karena tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Saya ingin menanamkan pada anak, sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Begitu juga dengan belajar, learning is fun and interesting. Dengan begitu, ketika di SD mereka akan mempunyai regulasi diri, tanggung jawab akan belajar, dan ketertarikan akan sekolah,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

PASTIKAN ANAK MATANG

Menurut Lia, sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah, meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung saja tidak cukup. Itulah mengapa, untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah, banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah.

Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Bayangkan, secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama. Repot, kan? Tidak hanya itu. Ia juga mudah tantrum atau menangis. Meski secara kognitif ia siap, namun ketidakmatangan emosi ini akan menghambatnya saat bersosialisasi; anak akan dijauhi, tidak disukai teman-teman di sekolahnya. Bukan tidak mungkin nantinya anak menjadi malas atau mogok sekolah. Bahaya, kan?

Bila anak masuk ke sekolah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan aspek lainnya, maka anak bisa saja mengejar ketertinggalan tersebut. Tapi bagaimana bila anak bersekolah di sekolah yang menekankan pada aspek kognitif semata? Di satu sisi kognitif anak akan semakin tinggi, tapi di sisi lain aspek yang kurang matang akan menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, aspek-aspek yang kurang matang akan semakin sulit berkembang, tertinggal jauh dari teman-teman lainnya yang sudah matang. Inilah yang akan menjadi masalah di kemudian hari, dimana di usia sekolah dasar anak harus terus-menerus disuruh belajar, lalu saat ujian orangtuanya stress karena sibuk belajar, menanya-nanya soal, membacakan, dan sebagainya. Nantinya, anak tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain, masih banyak dibantu, dan sulit untuk menjadi sukses.



“Ini yang tidak diinginkan, sehingga uji kematangan sebelum bersekolah perlu dilakukan.” Jadi tidak mentang-mentang bisa calistung, si kecil yang berusia 4 tahunan lantas bisa masuk sekolah dasar, ya, Bu-Pak.

KEMATANGAN MERUPAKAN PROSES

Kematangan anak untuk bersekolah merupakan proses yang terkait dengan aspek perkembangan anak secara keseluruhan dan proses ini dimulai sejak bayi. Kematangan anak harus dibina dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk mandiri, bisa bersosialisasi, dan sebagainya. Kenalkan dan ajarkan kemampuan tersebut di rumah sesuai dengan tahapan usia perkembangannya.

Jadi, kematangan bersekolah ini tidak dinilai atau dilihat saat anak mau masuk sekolah dasar saja. Tahun depan anak mau masuk SD, lalu kematangannya dinilai 6 bulan sebelumnya. Tidak demikian. Tes-tes kematangan sekolah yang diberlakukan di beberapa SD, pada intinya untuk melihat gambaran mengenai kekurangan dan kelebihan anak tersebut. Sekolah-sekolah biasanya akan menerima anak de

ngan menyeleksinya sesuai standar tertentu.

Padahal, untuk mengetahui kematangan bersekolah anak dibutuhkan tenaga psikolog anak professional. Maka itu, orangtua disarankan membawa anaknya ke psikolog anak professional, meski tidak dipungkiri beberapa sekolah sudah melibatkan psikolog anak professional dalam tes itu.

Informasi kematangan bersekolah anak ini diperoleh psikolog dengan cara mewawancarai orangtua si anak mengenai perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru TK sebelumnya, dan juga melakukan observasi pada anak langsung dengan bertanya, berinteraksi dengan bermain, dan mengobservasi lainnya. Dengan begitu dapat diketahui seperti apa perkembangan diri si anak. Selain itu, dilakukan pula tes intelegensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Lewat serangkaian proses itu dapat diperoleh rekomendasi, apakah anak sudah matang untuk melanjutkan ke jenjang SD atau tidak.

SETIAP ANAK BERBEDA



Kematangan setiap anak tentunya berbeda-beda. Selain dipengaruhi usia, juga oleh temperamen, cara belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, serta faktor lingkungan yang mendukungnya. Umumnya, pada anak-anak normal, di usia 6-7 tahun anak sudah matang alias siap untuk bersekolah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai masalah dengan perkembangannya, seperti ada hambatan kognitif, bahasa, dan sebagainya, tentunya di usia 7 tahun belum bisa masuk SD karena ada masalah tersebut.

Memang, di usia 6-7 tahun itu boleh jadi ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Apalagi dalam setiap aspek, misalnya, aspek bahasa terdiri atas beberapa komponen, begitupun aspek motorik, dan sebagainya, masing-masing ada komponennya.

Jadi, bisa saja anak secara aspek kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pem

alu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut.
Maka itu, pemilihan sekolah pun menjadi penting. Pilihlah sekolah yang menyeimbangkan semua aspek perkembangan anak. Tidak hanya kognitif, tapi juga aspek lainnya, sehingga semua aspek anak dapat terasah secara optimal.

KERJA SAMA ORANGTUA-SEKOLAH

Mengingat sistem pendidikan di tanah air yang cenderung kurang memberikan kematangan pada aspek lain selain kognitif, maka diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah (SD). Orangtua harus berperan aktif dengan cara mengenal baik anaknya, mengetahui bagaimana tahapan perkembangannya, mengetahui kekurangan dan kelebihan anaknya, sehingga orangtua tahu apa yang dapat dilakukannya atas kekurangan yang dimiliki agar menjadi lebih baik serta dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Contoh, orangtua melihat anak masih kurang mandiri, maka orangtua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contoh lain, aspek sosial anak tampak masih kurang, maka anak sering-sering diajak berinteraksi dengan temannya atau orang lain.

Pihak sekolah dasar juga seharusnya bisa melihat beban-beban yang diberikan kepada muridnya agar seimbang pada setiap aspek perkembangan. Menyediakan fasilitas untuk mendukung

aspek-aspek perkembangan anak, misal, menyediakan ruang bermain seperti playground atau lapangan basket untuk mengasah kemampuan motorik anak.

Memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar anak, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan lewat bermain terutama pada usia-usia SD awal. Guru sekolah dasar juga sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan di usia sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan.

INDIKATOR KEMATANGAN BERSEKOLAH
1. Aspek FISIK
· Motorik Kasar
- Bisa duduk tegap.
- Berjalan lurus dan bervariasi.
- Berlari.
- Melompat.
- Melempar.
- Memanjat.
- Naik turun tangga.


- Mengombinasi gerakan seperti lompat, jongkok, tegak dan berguling.
· Motorik Halus
- Dapat memegang pensil dengan baik.
- Menggambar orang atau sesuatu dengan lebih rapi tidak berantakan.
- Bisa makan sendiri.
- Menulis angka.
- Mewarnai.
- Menggunting.
- Menyusun lego.

2. Aspek BAHASA
- Memperkenalkan diri, nama, alamat, dan keluarga dengan jelas.
- Bercerita mengenai keadaan di rumah, sekolah, permainan, dan lain-lain.
- Menjawab pertanyaan.
- Menyanyikan lagu.
- Menyebutkan seluruh anggota badan.
- Menirukan huruf, suku kata, dan kata.

3. Aspek KOGNITIF
- Menerangkan mengenai sesuatu, misalnya kegunaan suatu benda.


- Mengenal warna.
- Mengetahui angka atau bilangan.
- Membedakan bentuk.
- Dapat mengelompokkan benda/sesuatu.
- Memahami konsep penjumlahan dan pengurangan.
- Membaca tanda-tanda umum seperti di jalan.
- Dapat berpikir lebih fleksibel dan sebab akibat.
- Rasa keingintahuan yang besar dan mencari tahu jawabannya.

4. Aspek SOSIAL-EMOSIONAL
- Bisa bermain secara interakstif dengan temannya.
- Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya.
- Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain.
- Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya.
- Dapat menolong orang lain/temannya.
- Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya.
- Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru.
- Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti.
- Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit.
- Bisa menunggu atau menahan keinginannya.
- Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan.

5. Aspek KEMANDIRIAN


- Sudah bisa makan sendiri.
- Pakai baju sendiri.
- Menyikat gigi sendiri.
- Toilet learning.
- Mulai dapat teratur pada rutinitas, seperti bangun tidur.




Sumber:http://kancilku.com/Ind//index.php?option=com_content&task=view&id=566

Dekati anak dengan cara yang tepat !!



Rihlah dan out bond bersama ayah & bunda

Anak merupakan harapan dan tumpuan orang tua kelak di kemudian hari. Oleh karena itu, sebagai orang tua tentunya harus dapat memberikan bimbingan serta arahan yang tepat agar ia menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia sebagaimana yang kita inginkan kelak saat mereka telah dewasa.

Para ayah dan bunda sempatkan waktumu, menjadi pendamping kehidupan, dan membimbing mereka mengenali tuhannya, mengenali kehidupan dunia ini. Memang tidak mudah dan terus belajar bagaimana memahami mereka yaitu anak-anak kita. Mencontoh suri tauladan utama yaitu rasulullah SAW. Bagaimana rasulullah dengan anak- anak, bagaimana cara beliau mengajari mereka, begitu banyak hal bisa kita pelajari sebagai orang tua.

Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka, ini merupakan salah satu upaya untuk bisa mendidik dan dekat dengan mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi merekadan memeluknya.

Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah pernah lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesahsampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma.

Cara mendidik anak yang baik memiliki banyak metode. Seberapa besar tingkat keberhasilan dari metode yang diterapkan tentu tergantung dari seberapa efektif masing-masing orang tua dalam memberikan kontribusi kepada anak-anaknya. Cara yang bisa dilakukan tentunya saat menghadapi mereka dengan cara yang sesuai dengan usia mereka sehingga mereka selalu belajar dalam keadaan bahagia, senang akan membuat mereka merasa diperhatikan. Berikut ini yang bisa kita lakukan diantaranya:

1.      Bersikap lembut terhadap anak
Sebagai orangtua bersikap lembut merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Sebab dengan bertutur kata yang lembut, seorang anak akan mendengarkan perkataan orangtuanya. Begitu juga saat memanggil dengan panggilan yang baik, misalnya “ anak bunda yang shalih…kemarilah…”, membuat anak menjadi bangga terhadap dirinya. Serta dengan panggilan yang baik juga merupakan bagian doa dan harapan orang tuanya.

2.      Menunjukkan kasih sayang yang tulus
Selain dituntut untuk bersikap lembut kepada anak, orang tua juga selayaknya memberikan kasih sayang yang tulus dan utuh kepada anak. Salah satu contohnya adalah dengan mengatakan kepada anak bahwa kita sangat menyayanginya, “ nak…bunda sayang sekali kepadamu…,  Pelukan atau ciuman juga bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi jiwa sang anak yang bisa kita  lakukan.

3.      Memberi rasa nyaman
Tumbuhkanlah rasa nyaman ketika anak sedang bersama dengan kita. Sesekali ajaklah untuk berdiskusi kecil di sela-sela kebersamaan agar anak merasa nyaman, sebaiknya tidak menjadi yang merasa paling tahu segalanya sehingga membuat kita sebagai orangtua terkesan mendominasi pembicaraan. Jadikan ia seperti seorang teman yang juga perlu untuk kita dengarkan dengan baik dan penuh rasa simpati.

4.      Menjadi pendengar yang baik
Mungkin anak kita pernah merasakan di olok-olok oleh teman sebayanya. Sebagai orang tua yang baik, mencoba melakukan pendekatan agar si anak mau bercerita. Di saat seperti itulah kita dituntut untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan mampu mendengarkan semua keluh kesah si kecil. Ini merupakan kunci sukses dalam membangun rasa percaya diri anak. Memberikan dukungan yang baik/positif dan bekalilah ia dengan skill untuk menghindari olokan temannya serta kemampuan untuk bisa bersosialisasi dengan baik disaat ia menghadapi permasalahan. Sebagai contoh kita dapat mengajarkan anak untuk menghindari sebuah ejekan dari temannya. Misalnya jika ada temannya yang mengatakan “ Kamu nakal “, lantas jawaban yang tepat adalah, “ Aku lho…baik…”Anak yang terbiasa mengolok-olok pasti akan merasa bosan dengan jawaban yang demikian karena ejekannya tidak ditanggapi dengan serius serta tidak mendapatkan feedback sesuai dengan yang ia inginkan, misalnya dengan menangis, mengadu atau marah.

5.      Membangun kreatifitas dengan bermain bersama
Mengajarkan anak tidak harus selalu membuat "aturan baru" yang tidak menyenangkan baginya, akan tetapi bisa juga dengan cara bermain bersama. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menuangkan idenya saat bermain bersama, menari, menyanyi serta kegiatan yang membuat mereka senang dan lebih dekat dengan kita.

6.      Menjadi panutan dan idola bagi anak sendiri
Sebagian besar setiap anak memiliki idola "superhero" di dunia imajinasinya. Namun demikian di dunia yang sesungguhnya, ia juga pasti ingin memilikinya. Kita sebagai orang tua sebisa mungkin mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan sang anak dan selalu bisa diandalkan. Salah satunya adalah dengan melakukan apa pun yang menurut kita terbaik untuk bisa diberikan kepada anak. Dalam hal ini bisa juga kita kenalkan sosok rasulullah yang menjadi idola karena akhlaqnya yang mulia. Melalui cerita tentang rasulullah ini diharapkan anak anak akan muncul cinta dan rasa idola serta ingin meniru prilakunya diantaranya; rasulullah sebagai sosok yang sabar, jujur, amanah dan cerdas. 

7.      Mengajari tanggung jawab
Mengajarkan dan mengingatkan anak untuk selalu memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya. Misalnya jika telah tiba waktunya untuk sekolah, ia harus berangkat, apa yang musti dilakukan dan di siapkan. Jika ia bertanya mengapa harus demikian. Berikanlah alasan yang bisa dipahami oleh anak.

8.      Menumbuhkan sikap menghormati
Menumbuhkan dan mengajarkan anak untuk selalu menghormati siapa pun orangnya, baik orang yang lebih tua maupun teman sebayanya. Hal ini penting untuk ditumbuhkan semenjak usia dini sebab di kemudian hari saat ia telah dewasa ia dapat berlaku hormat kepada semua orang, menghargai orang lain, ini bisa kita latihkan sejak dini.

9.      Mengajarkan meminta maaf dan memaafkan
Meminta maaf atas sebuah kesalahan merupakan tindakan yang mulia dan kesatria. mengajarkan anak untuk mau meminta maaf dari sebuah kesalahan yang mungkin ia lakukan terhadap teman sebayanya merupakan upaya dalam menyadarkan anak bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah tindakan yang kurang terpuji. Begitu juga sebaliknya memaafkan saat teman melakukan kesalahan merupakan tindakan yang baik dan terpuji sehingga teman yang melakukan kesalahan mengerti apa yang sebaiknya dilakukan saat melakukan kesalahan. 

10.  Menghindari kebohongan
Seorang anak yang sering dibohongi saat masih kecil akan menjadi terbiasa dengan kebohongan yang ditanamkan oleh orang tuanya. Saat nanti ia dewasa, ia tentu akan menganggap berbohong adalah hal yang wajar dilakukan karena semua orang termasuk orang tuanya juga melakukannya.

11.  Menghindari menakuti
Menjadi orang tua biasanya cenderung mengambil "jalan pintas" yang mudah. Andalan selain berbohong, orang tua juga biasanya kerap menakuti anak, agar anak mau menuruti keinginan orang tua dengan segera. Hal ini merupakan perilaku orang tua yang keliru karena selain bisa menjadi sebuah trauma saat ia dewasa, hal ini juga mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri dan dapat mengurung kreatifitasnya.

12.  Menghindari mengancam dan berkata keras
Ada yang mengatakan bahwa anak itu seperti kertas putih yang kosong. Baik atau buruknya anak juga tergantung dari yang diajarkan orang tua kepadanya. Oleh karena itu mencoba untuk sebisa mungkin menghindari perkataan yang keras, mengancam, menyakiti atau bahkan meneriaki sang anak. Jika perilaku anak mungkin terkesan kurang baik, cobalah untuk menahan emosi dan menasehati dengan perkataan lembut serta bijaksana.

13.  Mengajak keterbukaan
Dikala kita memiliki waktu luang bersama dengan sang buah hati. Ajaklah berbincang dan cobalah untuk mencari tahu mengenai kesehariannya. Apa saja yang ia lakukan, apa yang membuat ia senang, apa yang membuatnya sedih atau bahkan yang membuatnya bersemangat. Dengan terbukanya sang anak, kita juga bisa mencari celah untuk bisa mengetahui sifat sang anak sekaligus menjadi inspirasi bagi orang tua. Orang tua yang baik dan bijak adalah orang tua yang dapat mengambil pengalaman serta pelajaran dari siapa pun termasuk dari anaknya sendiri.

Menyenangkan bukan, ketika kita sudah tahu cara yang tepat untuk bisa mendidik mereka. Menghantarkan mereka untuk siap menjalani kehidupan yang merupakan anugerah dan amanah yang di berikan oleh allah SWT. Semoga bisa menginspirasi. 

Oleh: Ursila, M. Pd (Guru TK Yaa Bunayya Surabaya)