Kisah Seorang Istri


Pagi itu ketika merapikan rumah, aku menemukan sebuah kotak berhias pita tersimpan di atas meja makan. Di atasnya terdapat kertas bertuliskan .Hadiah untuk Bunda.
Ini pasti dari suamiku, langsung saja aku buka kotak itu, di dalamnya terdapat beberapa set gamis longgar dan kerudung lebar. Heran dengan hadiah dari suamiku yang aneh.
Kok modelnya gini ? Eh, jangan-jangan mau diajak umroh jadi dikasih baju seperti orang-orang arab aku menghibur diri. Masih dalam keadaan penasaran aku menemukan secarik kertas, surat dari suamiku.
Ini isinya: 

Bunda sayang, pasti bunda kaget ya Ayah kasih hadiahnya kali ini beda. Bukan baju modis dan juga bukan perhiasan kesukaan bunda. Tas yang sudah lama bunda minta, belum juga Ayah belikan, dan malah hadiah ini yang Ayah ingin berikan untuk bunda kali ini. Bunda pasti kecewa saat membukanya, tapi tunggu dulu. Ayah ingin ceritakan sesuatu. Senyum dulu ya Bundan. Ayah kan bisa lihat senyum bunda dari kantor. Ada cctv di hati Ayah, hehehe..
Bunda sayang, Ayah rupanya salah selama ini. Ayah bangga memperkenalkan Bunda ke teman kantor Ayah, relasi bisnis, dan apalagi ke atasan Ayah. Bangga rasanya punya istri yang cantik dan berpenampilan menarik. Berjalan di samping bunda, lalu melihat banyak mata melirik memperhatikan Bunda.
Pikir Ayah saat itu, siapa dulu dong suaminya. Ayah yang selama ini membiarkan bunda bergaul bebas dengan teman laki-laki ataupun perempuan. Bunda yang banyak keluar rumah sendiri tanpa didampingi Ayah dan berinteraksi dengan banyak orang.
Ayah pikir, yaa Bunda kan juga harus maju dan menjadi wanita masa kini yang mandiri dan supel. Makanya Ayah percaya saja setiap kali bunda ada urusan sampai pulang larut malam, dan pulang diantar teman dekat laki-laki yang bisa jaga Bunda di perjalanan.
Kemarin itu Pak Jimmy teman kantor yang Ayah kenalkan ke Bunda tempo hari, datang bawa istrinya. Di luar dugaan Ayah, istrinya memakai pakaian lebar, kerudungnya panjang sampai betis. Polos dan sederhana sekali. Melihatnya ayah langsung menundukkan pandangan dan bersikap hormat. Bicara tanpa berani melihatnya.
Di antara teman kantor yang lain, hanya Pak Jimmy ini yang belum pernah membawa istrinya di acara-acara kantor. Hari itu pun karena kebetulan Pak Jimmy izin cuti untuk menengok ibunya yang sakit kemudian mampir ke kantor bersama istrinya untuk mengambil beberapa barang miliknya yang tertinggal.
Kok Ayah refleks bersikap hormat dan malu melihatnya ya? Begitupun teman kantor yang lain, hanya menyapa tanpa berani melihatnya. Padahal kalau boleh jujur nih Bunda, Ayah dan teman-teman kantor itu setiap hari ada saja perempuan yang kita jadikan bahan guyonan. Apalagi kalau lagi kedatangan SPG rokok yang sesekali datang ke kantor Ayah. Sudah deh, heboh langsung seisi kantor otaknya langsung mendidih semua. Kecuali Ayah lhoo bunda. Hehehe..
Ayah jadi mikir, berarti selama ini Bunda pun Ayah biarkan dilihat dan dinikmati mata laki-laki atas kecantikan Bunda. Kok beda ya rasanya, ternyata bukan bangga tapi seharusnya ayah cemburu membiarkan bunda tidak menutup aurat.
Nah kemarin, saat Pak Jimmy kembali ke kantor Ayah ngobrol-ngobrol dengan beliau. Ayah baru tahu kalau katanya, suami harus cemburu terhadap istrinya. Kalau ndak cemburu itu namanya Dayyuts, yaitu lelaki yang membiarkan kejahatan (zina, buka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (istri dan keluarganya). Dayyuts itu lawan kata dari cemburu (karena iman).
Kata Pak Jimmy, seorang suami yang peduli pada istrinya kadang akan nampak sebagai seorang pencemburu. Kecemburuan yang berdasarkan agama ini dibenarkan.
Cemburu seorang suami dan Ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga harga diri dan kehormatan istri dan anak anaknya.
Bunda, Ayah menyesal baru menyadari ini, tapi Ayah bersyukur belum terlambat, baca ini dulu bunda:
"…dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,... " ini ada dalam QS. An Nuur :31, dan ada lagi bunda..
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu…." (QS. Al Ahzaab : 33)
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu…" (QS. Al Ahzaab : 59)
Bunda, bolehkah Ayah meminta hadiah dari bunda? Jadikanlah Ayah seorang laki-laki yang bahagia karena Ayah Bunda jadikan sebagai laki-laki satu-satunya yang boleh melihat kecantikan bunda.
Ayah ingin sekali bunda tampil sederhana saja saat keluar rumah, berbalut pakaian syar’i yang tidak perlu diperindah lagi dengan make up, warna, dan aksesoris yang menarik perhatian. Karena percuma dong Bunda kalau masih berhias walaupun berjilbab tetap saja akan beresiko menimbulkan fitnah.
Bunda sangat cantik, dan biarlah kecantikan itu menjadi perhiasan dunia milik Ayah saja. Bolehkah Bunda jika Ayah meminta ini? Ayah berdo’a sambil menulis surat ini, semoga Allaah menghadiahi Ayah istri sholehah yang akan mendampingi Ayah di dunia dan di akhirat. Peluk Ayah untuk Bunda, sambut Ayah nanti sore dengan pakaian barunya ya Bunda?.......
Air mataku berurai jatuh, kertas berisi surat teromantis dari Ayah untukku. Apalagi yang aku inginkan, kecuali pujian dan rasa kasih sayang Ayah padaku karena keta’atannya kepada Allaah. Baik Ayah, permintaan ini terlalu mulia untuk aku tolak.
Bismillaah, hadiah Ayah kali ini menjadi hadiah terindah untukku.