Home Visit

Suatu hari di PAUD tempat saya mengajar, saat rapat evaluasi seorang teman mengeluhkan keadaan anak didiknya yang sering merobek atau mencoret-coret hasil karyanya sendiri jika diapresiasi oleh gurunya. Beberapa teman guru yang lainnya memberikan masukan dengan beberapa cara pendekatan kepada anak tersebut, setelah dicoba hasilnya sama saja, bahkan anak tersebut sempat kabur keluar kelas saat guru mencoba merayunya untuk melihat karyanya.
Setelah berdiskusi dan mencoba mencari berbagai  solusi akhirnya para guru memutuskan mencoba melakukan kunjungan ke rumah anak tersebut. Setelah berbagai pertimbangan maka yang akan berangkat melakukan kunjungan rumah adalah hanya satu orang yaitu saya, dan itupun dilakukan saat sang anak berada di sekolah, agar tidak ada percakapan antara orang tua dan guru yang didengar oleh anak tersebut.
Saat kunjunganpun tiba, skenario percakapan dirancang secair mungkin agar orang tua bisa dengan nyaman bercerita tentang semua keadaan yang patut diketahui oleh sekolah. Saya memulai percakapan dengan melaporkan perkembangan dan kemajuan ananda sampai pada hal-hal yang tidak wajar yang dilakukan sang anak di sekolah. Panjang lebar cerita mengalir dari  ibu yang sendiri berada di rumah karena sang ayah harus berdagang dari pagi sampai sore hari. Dari cerita masa kecil sang ibu bagaimana dibesarkan, tentang kehidupan rumah tangga tentunya yang paling penting adalah tentang anak usia dininya yang berada di sekolah kami. Sesekali cerita diselingi derai air mata sang ibu yang menyalahkan dirinya yang selalu menuntut sempurna pada sang anak, yang dia anggap anak pertama paling besar dengan dua adik dibawahnya. Tentunya bukan saatnya menyalahkan atau menyampaikan berbagai teori kepengasuhan yang saya tahu hari itu kepada sang ibu, tapi mendengarkan kisah yang dituturkan sambil memberikan sedikit penguatan itulah yang  saya lakukan sambil beberapa kali saya menarik nafas dalam- dalam, karena teringat pada anak-anak saya sendiri.
Anak usia dini bukanlah orang dewasa mini, anak pertama atau anak paling besarkah, selagi dia berada pada usia yang masuk kategori anak usia dini dan belum baligh, dia adalah anak kecil yang ingin diperlakukan khusus sesuai usianya. Adapun tanggung jawab yang diberikan adalah tanggung jawab yang membantu dia kelak menjadi seorang yang mandiri dan diberikan secara bertahap sesuai kemampuannya. Jangan patahkan dia saat sisi kemanjaan kanak-kanaknya hadir dan ingin mendapatkan respon positif dari orang tua. Dia memang kakak tapi usianya mungkin baru 3 tahun, 2 tahun, atau bahkan 1,5 tahun, belumlah cukup usianya untuk memahami bahwa dia memliki tanggung jawab yang besar kepada adiknya.

Kunjungan itu tidak pernah saya lupakan sampai hari ini, karena dari  kunjungan rumah itulah saya banyak sekali mendapatkan pelajaran berharga, saya mendapatkan informasi tentang lingkungan keluarga dimana anak didik  dibesarkan, sehingga kita dapat melihat masalah yang terjadi pada anak dari berbagai sudut pandang.

apa sih Home Visit???
Definisi Layanan Kunjungan Rumah
Layanan kunjungan rumah ( Home visit ) adalah salah satu teknik pengumpul data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain (WS.Winkel, 1995:76).
Kunjungan Rumah (P4) adalah upaya yang  dilakukan Konselor untuk mendeteksi kondisi  keluarga dalam  kaitannya dengan permasalahan anak/individu agar mendapat berbagai informasi  yang dapat digunakan lebih efektif.
Kegiatan kunjungan rumah merupakan salah satu kegiatan pendukung yang diadakan untuk memahami diri siswa yang bermasalah secara lebih lengkap di dalam proses pemberian bantuan melalui jenis layanan bimbingan dan konseling di sekolah .
Penanganan permasalahan siswa seringkali memerlukan pemahaman yang lebih lengkap tentang suasana rumah atau keluarga siswa. Untuk itu perlu dilakukan kunjungan rumah , namun harus diingat bahwa kunjungan rumah itu tidak perlu dilakukan untuk semua siswa. Bagi siswa yang permasalahannya menyangkut peranan rumah tangga atau keluarga sajalah yang diperlukan kunjungan rumah itu . Kemungkinan cara lain yang dapat ditempuh untuk memperoleh data atau informasi tersebut ialah mewawancarai siswa secara langsung atau meminta / mengundang orang tua ke sekolah untuk memberikan keterangan yang dimaksud. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, home visit (kunjungan rumah) merupakan salah satu alternatif dalam memecahkan masalah siswa..

Latar Belakang Penggunaan Layanan Kunjungan Rumah
Latar belakang penggunan layanan kunjungan rumah adalah sebagai berikut:
  • Hanya sebagian kecil waktu anak berada di sekolah dan selebihnya berada di rumah. Untuk melengkapi pengalaman membimbing tentang seseorang perlu mengetahui kehidupan keluarga di mana anak itu tinggal dan banyak melakukan kegiatan sesudah pulang sekolah.
  • Tidak sedikit masalah yang timbul di sekolah, berasal dari rumah.

Tujuan Layanan Kunjungan Rumah
Ada duat tujuan dari layanan kunjungan rumah atau home visit, yaitu :
  • Tujuan Umum
Diperolehnya data yang lebih lengkap dan akurat berkenaan dengan  masalah klien serta digalangnya komitmen  orangtua atau anggota keluarga lainnya dalam rangka penyelesaian masalah.
Membangun hubungan antara lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat.
  • Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari layanan kunjungan rumah adalah sebagai berikut:
Agar terpahaminya permasalahan klien dan upaya pengentasannya. Dari ini dapat mencegah timbulnya  masalah lagi serta dapat berlanjut untuk mewujudkan fungsi pengembangan dan pemeliharaan serta advokasi.
Untuk mengkomunikasikan kepada orang tua tentang permasalahan yang sedang dihadapi siswa.
 Membangun komitmen orang tua terhadap pembahasan dan pengentasan permasalahan siswa.

Melalui kunjungan rumah akan diperoleh berbagai data atau keterangan tentang berbagai hal yang besar kemungkinan ada sangkut pautnya dengan permasalahan siswa. Dari kunjungan rumah yang dilakukan, konselor akan memperoleh data mengenai siswa. Data  atau keterangan ini meliputi kondisi rumah tangga dan orang tua, fasilitas belajar yang ada di rumah, hubungan antar anggota keluarga, sikap dan kebiasaan siswa di rumah, berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya terhadap siswa.
Mengevaluasi proses pelaksanaan Kunjungan Rumah, mengevaluasi kelengkapan dan keakurautan data hasil Kunjungan Rumah serta komitmen ortu atau wali, mengevaluasi penggunaan data dalam rangka pengentasan  masalah klien. Analisis  terhadap efektifitas penggunaan hasil KR terhadap penanganan kasus.Mempertimbangkan apakah perlu dilaksanakan KR ulang atau lanjutan dan mempertimbangkan tindak  lanjut layanan dengan menggunakan  hasil KR  yang lebih lengkap dan akurat. Menyusun laporan KR,  menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Kunjungan Rumah
Mengadakan persiapan mental sebelumnya mengenai informasi apa yang ingin diperoleh.
Konselor perlu bersikap wajar, sopan dan menghargai dan ada kesediaan untuk menolong untuk menghindari memberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan atau penggeledahan.
Harus ada kepastian sebelum berkunjung, bahwa kedatangan konselor akan disambut dengan baik. Kepastian itu dapat diperoleh dari surat balasan yang diberikan orang tua terhadap surat pemberitahuan dari sekolah mengenai rencana kunjungan rumah atau dengan menanyai siswa yang bersangkutan tentang rencana berkunjung ke rumahnya. Kalau siswa tidak menyukainya atau meragukan kerelaan orang tua menerima kunjungan petugas bimbingan atau konselor, pada umumnya lebih baik rencana itu dibatalkan saja.
Membuat catatan seperlunya, sesuai dengan tujuan.
Hindari wawancara sepihak.
Pada ibu biasanya banyak tersimpan data.
Sebelum mengadakan home visit, sebaiknya pembimbing mempelajari data anak di sekolah.
Mencari data sejauh yang memungkinkan.
Pendekatan dapat dilakukan dari segi positif atau kekuatan dari keluarga anak.
Hasil dari home visit dipergunakan dalam rangka menolong.
Sesudah kembali dari kunjungan rumah, pembimbing membuat laporan singkat tentang informasi yang diperoleh dengan membedakan antara fakta dan datadengan kesan pribadi yang merupakan interpretasi terhadap informasi.Laporan disimpan sendiri dan tembusan dilampirkan pada kartu pribadi siswa yang
bersangkutan.


Informasi yang Diperoleh dalam Kunjungan Rumah
Informasi yang dapat dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal :
1.    Letak rumah dan keadaan di dalam rumah : keadaan fisik daerah di sekitar rumah, ukuran rumah, perlengkapan di dalam rumah, sumber penerangan, dsb.
2.    Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa : ruang belajar, meja belajar, macam sumber penerangan, sumber-sumber gangguan.
3.    Kebiasaan belajar siswa : belajar pada waktu-waktu kapan, berinisiatif sendiri atau harus dikejar-kejar, belajar bersama teman atau sendirian.
4.    Suasana keluarga : corak hubungan antara anak dan orang tua (akrab atau tidak), sikap orang tua terhadap sekolah, sikap orang tua terhadap teman-teman bergaul anaknya, harapan kedua orang tua terhadap anaknya, tekanan ekonomi, dsb.

dari: berbagai sumber. dan https://gurucerd4s.wordpress.com/2015/01/15/kunjungan-rumah/