BUNDA PAHAMI AKU


“Mengenalkan keberadaan Rabb sejak dini, adalah pondasi awal memahamkan anak akan tugas seorang hamba terhadap Khaliq-Nya”
Anak adalah karunia yang Allah berikan kepada kita. Walaupun sesungguhnya itu hanyalah titipan belaka. Ketika waktunya sudah tiba, dengan suka hati atau terpaksa akan dikembalikan kepada yang Empunya. Namun kegembiraan dan rasa memiliki buah hati sering kali membuat kita lupa, seolah kita paling tahu dan bisa menentukan setiap keberhasilannya.
Jika mengingat kembali kajian-kajian yang pernah diikuti, tentunya tidak akan lupa bagaimana sesungguhnya Allah menata perjalanan manusia. Dia menciptakan roh di alamnya, kemudian ditiupkan pada rahim seorang ibu yang sedang mengandung, disitulah ada ikatan janji antara pencipta dan ciptaannya. Pada saatnya, janin akan keluar dari alam kesendirian menuju medan penuh tantangan yakni dunia. Jatah usia manusia sudah ditentukan Yang Maha Kuasa, karena itulah dalam menjalani kehidupan ini tidak lain hanya untuk mencari bekal sampai malaikat maut menghampiri kita.
Melihat perjalanan manusia sedemikian rupa, apa yang bisa dilakukan agar Allah membaguskan penciptaan kita pada kedua kali-nya kelak di alam kebangkitan? Di atas sudah disinggung tentang menyiapkan bekal, tentunya harus penuh gizi bukan instan atau pun cepat saji. Butuh dibersihkan, diracik dan diolah supaya banyak peminat dan bermanfaat. Dengan demikian, panduan tepat sangat dibutuhkan.
Allah SWT paling memahami siapa diri kita. Panduan super lengkap telah disiapkan. Al-quran adalah sebaik-baik bekal dalam menjalani proses kehidupan. Mempergunakannya sesuai dengan aturan mendatangkan keberuntungan. Namun jika memakainya hanya untuk membenarkan keinginan, maka akan timbul ketidaknyamanan.
Lalu apa kaitannya dengan anak sebagai karunia dari Allah? Melihat perkembangan pendidikan yang ada, kekhawatiran banyak muncul di kalangan orang tua ketika buah hatinya belum siap memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung pada saat memasuki usia sekolah dasar. Karenanya tidak jarang mereka akan mengupayakan sedemikian rupa bagaimana putra-putrinya melampaui hal itu.
Mendatangkan guru les, memberi masukan kepada sekolah untuk memberikan pelayanan lebih terhadap kemampuan calistung. Terlebih pihak sekolahpun sering mewadahi keinginan wali murid dengan mengadakan program pembinaan dan pemantapan dalam rentang waktu antara 1-3 bulan menjelang tes penerimaan sekolah dasar. Sepintas upaya yang dilakukan terkesan baik, apalagi melihat muatan materi dalam buku pelajaran kelas satu yang sedemikian rupa. Wajar saja, jika banyak orang tua yang menghawatirkan hal itu.
Tidakkah orang dewasa pernah melihat pada keinginan anak-anak? Benar adanya di usia mereka adalah masa emas, sehingga mudah saja untuk diberikan asupan yang bermanfaat. Namun sudahkah kita menyiapkan pondasinya?
Otak anak bisa kita ibarat teko, sebagus apapun isi yang kita masukan ke dalamnya, jika wadahnya belum siap hasilnya tidak akan maksimal. Bisa luber atau mencederai wadahnya itu sendiri.
Maka bersabarlah bunda, tanamkan pada anak-anak kita tentang keberadaan Allah dan Rasul-Nya, ajari mereka adab bagaimana seorang hamba bersikap terhadap Khalik-nya. Hal itu adalah pondasi awal untuk memperkokoh wadah kemampuan kognisinya. Sehingga kita bisa memberi pemahaman, bahwa yang membuat kita diterima di sekolah dasar bukan karena kemampuan calistung yang dimiliki tetapi karena karunia Allah semata.
Mampukah anak-anak mencernanya? Jika kita bertanya pada manusia, sebatas itulah manusia menjawab. Namun jika pertanyaan itu kita tujukan pada Allah, maka tidak ada yang sulit bagi-Nya.


Copas dari fb 
Komalasari Oom