Cara Rasul Atasi Anak Kecil yang Ribut di Masjid


Yunal Isra Yunal Isra 2 Maret 2018 9458

Sudah menjadi kebiasaan di dunia anak-anak, untuk saling bercengkrama ataupun mengobrol sambil bermain-main antar satu sama lain ketika mereka saling bertemu, baik di jalan, di sekolah, ataupun di masjid sekalipun.

Kebiasaan seperti ini pada dasarnya adalah positif, karena di sana anak-anak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan memperluas wawasan pengetahuannya. Namun apa jadinya, kalau mereka saling bercandaan dengan suara keras pada saat pelaksanaan salat jamaah di masjid yang pada dasarnya membutuhkan keheningan dan ketenangan.

Sebagian umat Islam terkadang merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak yang ribut ketika mereka sedang melaksanakan shalat. Bahkan, lantaran emosi, tidak jarang sebagian mereka ada yang mengusir dan melarang anak-anak tersebut agar tidak datang lagi ke masjid.

Namun sebagian yang lain ada juga yang tetap membawa anak-anaknya ke masjid dengan tujuan agar mereka terbiasa melakukan shalat jamaah dan sekaligus bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya serta teman-teman sebayanya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara menyikapinya?

Tidak banyak riwayat yang menceritakan keterlibatan anak-anak dalam kegiatan keagamaan pada masa Rasulullah Saw, khususnya dalam kaitannya dengan shalat jamaah di masjid. Namun beberapa di antaranya ada yang mengisahkan kehidupan Nabi dengan kedua cucu kesayangan beliau, Saydina Hasan dan Husain. Sebuah riwayat yang berderajat hasan diriwayatkan oleh Imam Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, al-Baihaqi, Abu Ya’la, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan Imam Hakim dalam karya-karya mereka.

Riwayat tersebut bersumber dari Buraidah di mana ia menceritakan bahwa suatu kali Nabi sedang berkhutbah di hadapan kaum muslimin, tiba-tiba saja Hasan dan Husain muncul sambil bermain-main di sela-sela saf. Mereka asyik bercengkrama sambil berjalan-jalan, terus terjatuh, terus bangkit dan berdiri kembali.

Melihat hal itu, Nabi merasa iba lalu turun dari mimbar lantas menggendong keduanya. Kemudian beliau bersabda, “Maha benar Allah dan Rasul-Nya yang pernah berfirman bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah. Ketika melihat keduanya, saya tidak tahan untuk menggendongnya”. Lalu Nabi melanjutkan khutbahnya.

Sementara itu dalam Musnad Imam Ahmad yang bersumber dari Abi Hurairah dengan kualitas hasan menceritakan bahwa pada suatu malam kaum muslimin salat Isya bersama Nabi Saw. Ketika beliau sujud, tiba-tiba saja Saydina Hasan dan Husain naik ke atas punggung Nabi, lantas beliau mengangkat kepalanya sembari menahan keduanya dengan tangan beliau dengan cara yang sangat lembut. Kemudian Nabi mendudukkan keduanya di samping beliau, lalu kembali melanjutkan salat. Namun keduanya kembali melakukan hal yang sama hingga Nabi selesai salat.

Setelah salam, Nabi pun mendudukkan keduanya di atas paha beliau. Lalu Abu Hurairah bangkit sambil berkata: Wahai Rasulullah biar saya antarkan mereka pulang ke rumah ibunya? Lalu Nabi menjawab : Tidak usah. Beliaupun berbicara langsung kepada Hasan dan Husain dengan lembut: Pulanglah ke rumah ibu kalian! Sambil berjalan dengan disinari oleh cahaya kilat yang berkelipan, keduanya pulang ke rumah Fatimah.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam Mustadrak-nya dan mengatakan bahwa hadis ini sahih meskipun tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hal senada juga disampaikan oleh Imam al-Dzahabi dalam komentarnya terhadap kitab al-Mustadrak.

Pada hadis-hadis tersebut terlihat jelas bahwa Nabi tidak marah ataupun melarang anak-anak untuk pergi dan berkumpul bersama dengan orang-orang dewasa di dalam masjid, meskipun dalam pelaksanaan shalat jamaah sekalipun.

Dalam kasus lain misalnya, Nabi juga pernah membawa dan menggendong cucu perempuannya yang bernama Umamah, anak perempuan dari Sayyidah Zainab binti Rasulillah, dalam salat. Meskipun umur Umamah waktu itu masih sangat kecil dan sangat berpotensi untuk menangis ataupun membuat suasana salat menjadi tidak khidmat, namun beliau tetap membawanya. Hal ini sekali lagi menjadi bukti bahwa membawa anak kecil ke masjid adalah hal yang boleh-boleh saja.

Hadis lain yang memperkuat pendapat ini adalah hadis yang menjelaskan susunan saf dalam salat jamaah. Imam Abu Daud meriwayat sebuah hadis yang bersumber dari Abu Malik al-Asy’ari yang menyebutkan bahwa Rasulullah mengatur saf kaum muslimin dengan menempatkan laki-laki dewasa di saf paling depan dan mengiringinya dengan saf anak-anak.

Hadis ini bernilai shalih atau dengan kata lain dapat diterima, berdasarkan risalah khusus yang pernah ditulis oleh Imam Abu Daud kepada penduduk Mekah kala itu bahwa setiap hadis yang tidak beliau komentari mengisyaratkan bahwa hadis tersebut tidak bermasalah.

Dari beberapa riwayat yang penulis sampaikan, sekali lagi, menjadi bukti bahwa membawa anak-anak ke masjid tidaklah terlarang sama sekali, sekalipun dalam praktiknya mereka bisa saja melakukan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya pelaksanaan salat jamaah.

Namun hal ini tidaklah terlalu berpengaruh besar jika dibandingkan dengan maslahat yang akan dimunculkan dari kebiasaan membawa anak-anak ke masjid, yaitu untuk mendidik mereka agar terbiasa melaksanakan salat secara berjamaah ke masjid. Bahkan dapat dikatakan bahwa maslahatnya jauh lebih besar ketimbang mudarat yang dimunculkannya.

Adapun kendala-kendala seperti berisik atau yang sejenisnya dapat diatasi dengan cara-cara lembut berupa teguran halus terhadap mereka setelah pelaksanaan salat sebagaimana yang dicontohkan Nabi dalam hadis-hadis di atas.

Selain itu, masalah tersebut juga bisa diatasi dengan meningkatkan kerjasama antar semua jamaah dengan pengurus masjid untuk memberikan pendidikan khusus kepada mereka pada waktu-waktu tertentu. Sehingga dengan demikian rasa kekeluargaan akan terjalin erat di kalangan kaum muslimin sekaligus menularkannya kepada para generasi muda yang nantinya akan melanjutkan jalannya agama ini

Wisuda ku....

Sebagai  Penutup tahun pelajaran 2018-2019, KB-TK Yaa Bunayya mengadakan serangkaian acara untuk mengekspresikan dan menumbuhkembangkan bakat dan potensi anak-anak, yang diharapkan dengan acara tersebut juga memberi kesan terakhir yang positif selama di TK Yaa Bunayya dan menjadi tumpuan berikutnya untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi.

Namun di tahun ini ada yang berbeda. Menjadi tahun awal pelepasan dengan penuh marhalah qur'an. Dimana acara pelepasan kali ini, setiap kelompok santri memberikan hafalan terbaiknya kepada para wali santri.
Menempuh 2-3 tahun PAUD di Yaa Bunayya, santri balita ini terbiasa melantunkan surat-surat pendek di juz 30. Ini menjadi program baru kami yang sekaligus memantapkan hafalan mereka.

Mendapat Gelar Anugrah yang disematkan di setiap anak akan dipersembahkan pula dari asatidz untuk mereka. Anak-anak yang unik dan sholih-sholihah.
Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA. Berkata :
Janganlah kamu sekali-kali meninggalkan generasi lemah sesudahmu, karena boleh jadi tantangan yang dihadapi akan jauh lebih dahsyat”.

Dengan alasan itulah KB-TK Yaa Bunayya menggunakan salah satu cara untuk menguatkan mental-mental positif mereka, sebagaimana yang telah dilaksanakan di tiap tahunnya.
Pelepasan dan Anugrah Gelar Prestasi TK B Yaa Bunayya Surabaya yang di gelar di gedung rektorat PPNS Surabaya ini bertepatan pada hari Sabtu, 27 April 2019.





MENEBAR SENYUM ROMADHAN

Ramadhan sudah menghitung hari, selama 11 bulan penuh kita menanti datangnya bulan penuh berkah ini.
Berbagai macam kegiatan dan aktivitas untuk menyambut bulan mulia ini. Seperti yang dilakukan santri KB- dan TK Yaa Bunayya surabaya Kamis (02/05) kemarin, puluhan santri berangkat dengan mobil antar jemput dan beberapa mobil wali santri menuju berbagai kampus untuk mensyiarkan bulan ramadhan, dan memberi ucapan selamat datang bulan ramadhan.
Seminggu sebelum acara syiar, santri TK yang berusia 4-6 tahun ini bekerjasama dengan para asatidz untuk membuat karya seni berupa bunga dari kertas klobot, untuk kemudian di rangkai dengan kartu ucapan kecil dan diberi plastik supaya kelihatan rapi dan menarik.

Kegiatan syiar tahun ini, kita bekerjasama dengan kampus-kampus besar seperti STAIL, UNAIR dan STIESIA. Untuk santri Kelompok Bermain, di tempat yang dekat dengan lingkungan sekolah, yaitu di SD Luqman Al Hakim Surabaya, SMP dan SMA, serta ke lingkungan yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Sedangkan untuk kelompok Taman Kanak-kanak ke kampus UNAIR & STIESIA.

Seperti yang di ungkapakan oleh ketua acara Syiar Ramadhan tahun ini ustadzah masruroh, S. Pd.I, "Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih anak-anak berani dan percaya diri terhadap orang lain serta mengenalkan gebyar dan pentingnya bulan puasa ini bagi umat muslim di seluruh dunia" tuturnya disela-sela menemani santri TK B

Kedatangan santri kami disambut oleh beberapa dosen dan staff  FKH UNAIR serta beberapa mahasiswa. Setelah berbagi souvenir ucapan, santri TK A diajak berkeliling melihat koleksi hewan yang ada di penangkaran kampus. Santri-santri nampak antusias mendengar, melihat, dan beberapa diijinkan untuk menyentuh langsung hewan-hewan yang ada di sana.




Santri TK B sendiri bersyiar ke kampus STIESIA, terletak di JL. Menur pumpungan dengan jarak sekitar 5,5 km dari sekolah kami. Walau jauh, namun tidak menyurutkan semangat santri-santri. Di lingkungan kampus yang asri dan  megah ini, kami disambut dosen dan beberapa karyawan serta mahasiswa yang ramah-ramah. Setelah syiar keliling kampus, saatnya kami kembali ke sekolah tercinta.












Kisah Seorang Istri


Pagi itu ketika merapikan rumah, aku menemukan sebuah kotak berhias pita tersimpan di atas meja makan. Di atasnya terdapat kertas bertuliskan .Hadiah untuk Bunda.
Ini pasti dari suamiku, langsung saja aku buka kotak itu, di dalamnya terdapat beberapa set gamis longgar dan kerudung lebar. Heran dengan hadiah dari suamiku yang aneh.
Kok modelnya gini ? Eh, jangan-jangan mau diajak umroh jadi dikasih baju seperti orang-orang arab aku menghibur diri. Masih dalam keadaan penasaran aku menemukan secarik kertas, surat dari suamiku.
Ini isinya: 

Bunda sayang, pasti bunda kaget ya Ayah kasih hadiahnya kali ini beda. Bukan baju modis dan juga bukan perhiasan kesukaan bunda. Tas yang sudah lama bunda minta, belum juga Ayah belikan, dan malah hadiah ini yang Ayah ingin berikan untuk bunda kali ini. Bunda pasti kecewa saat membukanya, tapi tunggu dulu. Ayah ingin ceritakan sesuatu. Senyum dulu ya Bundan. Ayah kan bisa lihat senyum bunda dari kantor. Ada cctv di hati Ayah, hehehe..
Bunda sayang, Ayah rupanya salah selama ini. Ayah bangga memperkenalkan Bunda ke teman kantor Ayah, relasi bisnis, dan apalagi ke atasan Ayah. Bangga rasanya punya istri yang cantik dan berpenampilan menarik. Berjalan di samping bunda, lalu melihat banyak mata melirik memperhatikan Bunda.
Pikir Ayah saat itu, siapa dulu dong suaminya. Ayah yang selama ini membiarkan bunda bergaul bebas dengan teman laki-laki ataupun perempuan. Bunda yang banyak keluar rumah sendiri tanpa didampingi Ayah dan berinteraksi dengan banyak orang.
Ayah pikir, yaa Bunda kan juga harus maju dan menjadi wanita masa kini yang mandiri dan supel. Makanya Ayah percaya saja setiap kali bunda ada urusan sampai pulang larut malam, dan pulang diantar teman dekat laki-laki yang bisa jaga Bunda di perjalanan.
Kemarin itu Pak Jimmy teman kantor yang Ayah kenalkan ke Bunda tempo hari, datang bawa istrinya. Di luar dugaan Ayah, istrinya memakai pakaian lebar, kerudungnya panjang sampai betis. Polos dan sederhana sekali. Melihatnya ayah langsung menundukkan pandangan dan bersikap hormat. Bicara tanpa berani melihatnya.
Di antara teman kantor yang lain, hanya Pak Jimmy ini yang belum pernah membawa istrinya di acara-acara kantor. Hari itu pun karena kebetulan Pak Jimmy izin cuti untuk menengok ibunya yang sakit kemudian mampir ke kantor bersama istrinya untuk mengambil beberapa barang miliknya yang tertinggal.
Kok Ayah refleks bersikap hormat dan malu melihatnya ya? Begitupun teman kantor yang lain, hanya menyapa tanpa berani melihatnya. Padahal kalau boleh jujur nih Bunda, Ayah dan teman-teman kantor itu setiap hari ada saja perempuan yang kita jadikan bahan guyonan. Apalagi kalau lagi kedatangan SPG rokok yang sesekali datang ke kantor Ayah. Sudah deh, heboh langsung seisi kantor otaknya langsung mendidih semua. Kecuali Ayah lhoo bunda. Hehehe..
Ayah jadi mikir, berarti selama ini Bunda pun Ayah biarkan dilihat dan dinikmati mata laki-laki atas kecantikan Bunda. Kok beda ya rasanya, ternyata bukan bangga tapi seharusnya ayah cemburu membiarkan bunda tidak menutup aurat.
Nah kemarin, saat Pak Jimmy kembali ke kantor Ayah ngobrol-ngobrol dengan beliau. Ayah baru tahu kalau katanya, suami harus cemburu terhadap istrinya. Kalau ndak cemburu itu namanya Dayyuts, yaitu lelaki yang membiarkan kejahatan (zina, buka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (istri dan keluarganya). Dayyuts itu lawan kata dari cemburu (karena iman).
Kata Pak Jimmy, seorang suami yang peduli pada istrinya kadang akan nampak sebagai seorang pencemburu. Kecemburuan yang berdasarkan agama ini dibenarkan.
Cemburu seorang suami dan Ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga harga diri dan kehormatan istri dan anak anaknya.
Bunda, Ayah menyesal baru menyadari ini, tapi Ayah bersyukur belum terlambat, baca ini dulu bunda:
"…dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,... " ini ada dalam QS. An Nuur :31, dan ada lagi bunda..
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu…." (QS. Al Ahzaab : 33)
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu…" (QS. Al Ahzaab : 59)
Bunda, bolehkah Ayah meminta hadiah dari bunda? Jadikanlah Ayah seorang laki-laki yang bahagia karena Ayah Bunda jadikan sebagai laki-laki satu-satunya yang boleh melihat kecantikan bunda.
Ayah ingin sekali bunda tampil sederhana saja saat keluar rumah, berbalut pakaian syar’i yang tidak perlu diperindah lagi dengan make up, warna, dan aksesoris yang menarik perhatian. Karena percuma dong Bunda kalau masih berhias walaupun berjilbab tetap saja akan beresiko menimbulkan fitnah.
Bunda sangat cantik, dan biarlah kecantikan itu menjadi perhiasan dunia milik Ayah saja. Bolehkah Bunda jika Ayah meminta ini? Ayah berdo’a sambil menulis surat ini, semoga Allaah menghadiahi Ayah istri sholehah yang akan mendampingi Ayah di dunia dan di akhirat. Peluk Ayah untuk Bunda, sambut Ayah nanti sore dengan pakaian barunya ya Bunda?.......
Air mataku berurai jatuh, kertas berisi surat teromantis dari Ayah untukku. Apalagi yang aku inginkan, kecuali pujian dan rasa kasih sayang Ayah padaku karena keta’atannya kepada Allaah. Baik Ayah, permintaan ini terlalu mulia untuk aku tolak.
Bismillaah, hadiah Ayah kali ini menjadi hadiah terindah untukku.